Keren! Warga Medono Pekalongan Kelola Sampah Jadi Pangan

Keren! Warga Medono Pekalongan Kelola Sampah Jadi Pangan
Pengelolaan sampah di tingkat lingkungan tidak selalu berakhir pada proses pembuangan. Warga Kluster Satria Medono (KSM) Gemilang di RT 07 RW 20 Kelurahan Medono, Kecamatan Pekalongan Barat.Senin(07/09/26).

PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Pengelolaan sampah di tingkat lingkungan tidak selalu berakhir pada proses pembuangan. Warga Kluster Satria Medono (KSM) Gemilang di RT 07 RW 20 Kelurahan Medono, Kecamatan Pekalongan Barat, justru mengembangkan pola pengelolaan sampah organik yang terhubung dengan ketahanan pangan melalui budidaya maggot, ikan, dan ayam.

Ketua RT setempat, Tony, menjelaskan konsep tersebut dibangun dengan gagasan agar sampah dapat diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya. Sampah organik yang dikumpulkan warga diolah melalui budidaya maggot untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ayam.

Bacaan Lainnya

“Kalau sampah selesai di lingkungan kita sendiri, kita akan lebih mudah mengelolanya. Sampah organik kita masukkan ke maggot, kemudian maggot untuk pakan ikan dan ayam,” jelasnya.

Dari siklus tersebut, hasilnya kembali dimanfaatkan oleh masyarakat. Ayam yang dipelihara menghasilkan telur yang dapat dibeli warga dengan harga yang diupayakan lebih terjangkau, sedangkan ikan hasil budidaya dapat dikonsumsi masyarakat.

Pola ini membuat pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pengurangan volume sampah, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi dan pangan. Warga memperoleh manfaat dari hasil budidaya, sementara sampah organik yang sebelumnya menjadi beban lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari rantai produksi.

Selain pengolahan sampah organik, KSM Gemilang juga mengembangkan penghijauan kawasan dengan memanfaatkan lahan fasilitas umum dan lahan warga. Berbagai tanaman pangan ditanam secara bergantian, sementara kolam yang tersedia akan dikembangkan untuk budidaya ikan nila.

Tony menyebut pengembangan tersebut merupakan bagian dari visi RT hingga 2030 yang dilaksanakan secara bertahap. Selain Eco Farm, warga juga mengembangkan RT Online sebagai bagian dari upaya membangun tata kelola lingkungan yang lebih tertata dan mandiri.

“Kita sebenarnya mengusung ini karena ingin kontribusi ke alam. Program fisik dan nonfisik kita terjemahkan dalam visi RT sampai 2030. Nanti kita lihat berhasil atau tidak, kalau kurang kita koreksi kembali,” sambungnya.

Ke depan, KSM Gemilang berharap pola tersebut dapat terus dikembangkan hingga menjadi ekosistem lingkungan yang mandiri. Jika berhasil, pengalaman pengelolaan sampah dan ketahanan pangan tersebut diharapkan dapat dibagikan kepada lingkungan lain sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *