PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Setelah hampir 21 tahun terpisah dari keluarga, kebahagiaan akhirnya menyelimuti Kuslatifah Ahmad Sayuti (66), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kota Pekalongan yang baru saja kembali ke Tanah Air dari Jeddah, Arab Saudi. Momen haru tersebut semakin terasa ketika dirinya tiba di kampung halaman dan kembali bertemu dengan keluarga di Kampung Klego Baru, Kecamatan Pekalongan Timur, Selasa siang (3/11/2026). Kepulangan Kuslatifah menjadi perhatian Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker).
Kepala Dinperinaker Kota Pekalongan, Betty Dahfiani Dahlan, bersama jajaran sebelumnya menyambut langsung kedatangan Kuslatifah di Stasiun Pekalongan, kemudian mengantarkannya hingga ke kediaman keluarga. Pendampingan tersebut merupakan bentuk kepedulian pemerintah daerah dalam memastikan PMI dapat kembali dengan aman dan berkumpul bersama orang-orang terdekatnya.
“Alhamdulillah, siang ini Ibu Kuslatifah sudah bisa kembali ke Kota Pekalongan dan berkumpul dengan keluarga. Kami dari Dinperinaker turut mengawal proses kepulangannya sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab pemerintah daerah terhadap warga, khususnya pekerja migran yang mengalami permasalahan di luar negeri. Harapannya, beliau bisa kembali mendapatkan pendampingan dan menjalani kehidupan bersama keluarga dengan baik,” ujar Betty.
Ia menjelaskan, proses pemulangan Kuslatifah merupakan hasil koordinasi dan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), KJRI Jeddah, Kementerian Luar Negeri, Migrant CARE, hingga dukungan keluarga dan sejumlah instansi terkait. Termasuk di dalamnya KP2MI Pemalang melalui P4MI serta BP3MI Banten yang turut membantu proses kepulangan tersebut.
“Sinergi lintas lembaga menjadi bagian penting dalam memberikan perlindungan kepada PMI yang menghadapi persoalan di negara penempatan,”tegasnya.
Sementara itu, dari penuturan Kuslatifah, perjalanannya untuk kembali ke kampung halaman bukanlah proses singkat. Ia diketahui berangkat ke Arab Saudi pada 2005 untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga. Setelah sempat bekerja pada majikan hingga 2007, ia kemudian berpindah tempat dan menjalani kehidupan di Jeddah tanpa komunikasi dengan keluarga di Indonesia selama bertahun-tahun.
“Kondisi semakin sulit setelah Saya mengalami kecelakaan jatuh dari mobil yang menyebabkan tangan dan kaki tidak dapat digerakkan sehingga tidak lagi mampu bekerja,”tutur Kuslatifah.
Dalam perjalanan tersebut, Kuslatifah akhirnya mendapat pertolongan dari seseorang yang membawa Saya ke KJRI Jeddah. Selama kurang lebih tiga bulan berada dalam pendampingan, berbagai kebutuhan dasarnya dipenuhi, termasuk makanan tiga kali sehari serta perhatian terhadap kondisi kesehatannya. Ia mengaku sangat terkesan dengan perhatian dan pelayanan yang diterimanya selama berada di sana.
“Masyaallah, KJRI sangat baik sekali kepada saya. Setiap hari diberi makan tiga kali, semuanya diperhatikan. Setiap malam juga ada kegiatan yasinan, pagi hari sekitar pukul 07.00 ada senam bersama. Saya benar-benar merasa diperhatikan dan sangat berterima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu di sana. Semoga semuanya panjang umur, sehat selalu, dan diberikan banyak rezeki,” ungkap Kuslatifah dengan haru.
Bagi Kuslatifah, kepulangan ini menjadi momen yang sangat berarti setelah sekian lama tidak bertemu keluarga. Rasa syukur dan haru tak mampu disembunyikannya ketika akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di kampung halaman.
“Saya berharap kebaikan seluruh pihak yang telah membantunya mendapat balasan terbaik. Kepulangan Saya ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya perlindungan dan pendampingan bagi pekerja migran Indonesia, agar setiap warga yang menghadapi persoalan di luar negeri tetap mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk kembali ke Tanah Air dengan aman,”ungkapnya.
Keponakan Kuslatifah, Ana Farokhah, mengungkapkan rasa bahagia dan syukurnya karena sang tante akhirnya ditemukan dalam kondisi sehat dan bisa kembali ke Indonesia. Ia menuturkan, keluarga mulai mendapatkan informasi mengenai keberadaan Kuslatifah pada Agustus 2026 setelah menerima kedatangan pihak kepolisian dari Polda Jawa Tengah yang menyampaikan kabar tersebut.
Lanjutnya, keluarga kemudian berupaya mencari bantuan melalui jaringan pemerhati pekerja migran hingga akhirnya terhubung dengan Migrant CARE dan lembaga terkait.
“Awalnya kami sangat kaget, karena ternyata Ibu Kuslatifah masih ada dan alhamdulillah masih selamat. Kami sangat bahagia akhirnya bisa ditemukan dan pulang. Memang prosesnya cukup panjang, sehingga kami harus terus bersabar menunggu kabar sampai akhirnya beliau benar-benar tiba di rumah,” tukas Ana.




