PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Rumah BUMN Telkom Pekalongan memperkuat pendampingan terhadap kelompok tani dalam pengembangan produk hasil urban farming agar tidak berhenti pada produksi, tetapi mampu berkembang menjadi usaha yang memiliki nilai tambah dan akses pasar lebih luas.
Pendampingan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Yayasan Kolaborasi Pangan Indonesia. Fokusnya tidak hanya pada pengembangan produk, tetapi juga menyasar aspek hilir, mulai dari pengemasan, pemasaran digital, pengelolaan sumber daya manusia hingga manajemen usaha.
Perwakilan Rumah BUMN Telkom Pekalongan, Muhammad Saibani, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan kelanjutan dari hubungan yang telah terbangun sebelumnya melalui berbagai kegiatan, termasuk pengembangan batik ekologis dan pemberdayaan komunitas secara inklusif.
“Dari situ akhirnya hubungannya sudah bagus, mulai dari produksi sampai digital marketing. Kemudian kita berdiskusi, bagaimana kalau kelompok dampingan ini juga dibantu pemasarannya, baik secara online, pengembangan kemasan, pengelolaan manajemen SDM dan lainnya,” katanya.
Menurut Saibani, pendampingan pada kelompok tani menjadi penting karena mereka dinilai telah memiliki kemampuan untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk yang lebih bernilai. Rumah BUMN melihat potensi tersebut sebagai peluang untuk memperkuat sisi hilir sehingga produk yang dihasilkan memiliki kesiapan untuk dipasarkan secara lebih luas.
“Saya sebenarnya kaget juga pas pertama ke sini. Mereka sudah langsung membawa produknya, sudah ada bentuk produknya. Wah, ini dari kebunnya langsung,” sambungnya.
Ia menilai pola pengembangan tersebut memiliki kemiripan dengan konsep inti-plasma yang sebelumnya dikembangkan Rumah BUMN dalam ekosistem usaha batik. Konsep serupa dinilai dapat diterapkan pada urban farming dengan membangun keterhubungan dari proses produksi hingga pemasaran.
Dari kunjungan ke sejumlah kelompok, Rumah BUMN melihat potensi urban farming untuk dikembangkan sebagai bagian dari penguatan usaha berbasis lingkungan dan potensi lokal. Hal ini juga sejalan dengan arah program Rumah BUMN yang mencakup Go Modern, Go Digital, Go Online, Go Export, serta Go Green.
“Sepertinya menarik untuk kita dampingi terus secara berkelanjutan. Kita melihat ini cocok dengan program kita, terutama Go Green. Berangkat dari konsep inti-plasma yang diterapkan, kenapa tidak kita coba menjadi pilot project,” tandasnya.
Ke depan, pihaknya akan mengambil peran sebagai penghubung sekaligus pendamping dalam mengembangkan dan memasarkan produk kelompok tani. Pendampingan berkelanjutan tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan usaha setelah masa kemitraan dengan Yayasan Kolaborasi Pangan Indonesia berakhir.
“Kalau nanti sudah lepas dari kemitraan, Rumah BUMN bisa terus sustain untuk mendampingi. Tugas kita sebagai hub ataupun agensi adalah mengembangkan dan memasarkan produk-produk mereka,” pungkas Saibani.





