PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan kembali menguatkan edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Gerakan Sampah Sirkular: Jelantah Jadi Rupiah. Kegiatan ini bertujuan mengingatkan kembali pentingnya pengelolaan minyak jelantah rumah tangga agar tidak dibuang sembarangan, tetapi dimanfaatkan sebagai limbah bernilai ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
Ketua Pokja IV TP PKK Kota Pekalongan, Agustina Diah Nastiti menjelaskan bahwa program Jelantah Jadi Rupiah merupakan inisiasi dari TP PKK Provinsi Jawa Tengah yang kembali disosialisasikan kepada PKK kabupaten/kota. Menurutnya, kegiatan tersebut bukanlah program baru, melainkan bentuk reminder agar kader PKK kembali menggerakkan masyarakat dalam mengelola minyak jelantah secara bijak.
“PKK merupakan wadah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat hingga tingkat paling bawah. Karena itu, kami mengingatkan kembali bahwa minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah ternyata memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Harapannya, kader PKK kembali bersemangat mengajak masyarakat mengubah jelantah menjadi rupiah yang dapat membantu menunjang perekonomian keluarga,” jelasnya saat ditemui pada kegi
Ia menuturkan, minyak jelantah dari rumah tangga memang umumnya terkumpul dalam jumlah sedikit. Namun, apabila dikumpulkan secara bersama-sama, minyak tersebut dapat disetorkan ke Bank Sampah Induk (BSI) untuk selanjutnya ditampung dan disalurkan kepada pihak atau perusahaan yang memiliki kapasitas mengolahnya menjadi produk yang bermanfaat.
Selain melalui pengumpulan jelantah, TP PKK Kota Pekalongan juga membuka ruang bagi masyarakat yang ingin belajar mengolah minyak jelantah menjadi produk bernilai tambah, seperti sabun maupun lilin aromaterapi. Praktik pelatihan tersebut pernah dilaksanakan beberapa tahun lalu dan menghasilkan keterampilan yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha rumahan.
Meski demikian, ia mengakui bahwa pelaksanaan pelatihan belum dapat kembali digelar karena keterbatasan anggaran. Oleh sebab itu, saat ini fokus kegiatan diarahkan pada penguatan edukasi dan penyadaran masyarakat agar semakin peduli terhadap pengelolaan minyak jelantah sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular dan upaya mengurangi pencemaran lingkungan.





