Keluarga Thalasemia di Batang Gabung Popti dan Lantik Pengurus Baru

Ketua Popti Pusat melantik 16 pengurus baru Popti Kabupaten Batang di Aula Kantor Bupati setempat

Pantura24.com, Batang – Persatuan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia (Popti) Cabang Batang melantik pengurus baru. Pelantikan tersebut untuk masa bakti 2023-2026 dan berlangsung di Aula Kantor Bupati Batang.

“Ada 16 orang yang hari ini dilantik sebagai pengurus Popti yang baru terbentuk,” ujar Ketua Popti Pusat, Riswandi, Selasa (29/8/2023).

Ia menyebut ada 12.155 penderita thalasemia di Indonesia yang tersebar di 61 kota dan 26 provinsi. Yang terbanyak ada di Jawa Barat dan Jawa Tengah di mana angka kematian pertahun mencapai dua hingga tiga persen.

Riswandi menjelaskan bahwa thalasemia adalah penyakit kelainan darah karena faktor genetika yang menyebabkan protein dalam sel darah merah tidak berfungsi normal.

“Penderita thalasemia harus rutin melakukan transfusi darah tiap bulannya dan berlangsung seumur hidup,” katanya.

Bendahara Popti Batang terlantik, Dian Widyastuti menambahkan para orang tua thalasemia membentuk kesadaran baru dengan berkomunitas selanjutnya berorganisasi untuk saling menguatkan dan berjuang bersama.

Itensitas pertemuan yang kerap terjadi saat menemani anaknya transfusi darah membuat sesama penderita saling mengenal dan bertambah jumlahnya hingga tercatat ada 36 penderita thalesemia. 30 di antaranya anak-anak dan sisanya dewasa.

“Kami tiap tiga pekan sekali atau satu bulan menjalani transfusi darah dengan kebutuhan darah antara tiga hingga empat kantong,” terangnya.

Sementara itu Pj Sekda Ari Yudianto menyampaikan kehadiran Popti bagi orang tua sangat membantu. Tujuannya agar lebih dipermudah pelayanan medisnya.

“Saya sendiri baru mengetahui ada penyakit langka seperti itu. Jadi perlu ada edukasi yang bisa menjembatani masyarakat terhadap penderita thalasemia dan ini merupakan kampanye untuk memperluas pemahaman,” tukasnya.

Pihaknya mendukung kampanye yang dilakukan Popti terlait adanya pencegahan lahirnya bayi thalasemia baru melalui pengecekan darah pasangan sebelum menikah.

Dan diketahui ternyata thalasemia menjadi pengguna terbanyak BPJS Kesehatan nomor 5 di mana tiap bulan ada satu penderita yang perlu biaya penanganan di rumah sakit sebesar Rp 15-20 juta.

“Kami meyakini tidak semua warga Kabupaten Batang mengetahui apa itu thalasemia. Harapannya Popti bisa melakukan sosialisasi pencegahan thalasemia di 15 kecamatan,” tandasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *