PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Seorang pelajar sekolah menengah atas (SMA) berusia 14 tahun, berinisial LT, warga Binagriya, Kota Pekalongan, menjadi korban penyerangan oleh orang tak dikenal. Peristiwa itu terjadi saat LT bersama lima temannya hendak menuju Pantai Sigandu, Batang.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (24/8/2026) sekitar pukul 18.30 WIB. Saat itu, rombongan LT melintas di kawasan Terminal Kota Pekalongan dari arah barat.
Karena kondisi jalur utama cukup ramai, rombongan kemudian berbelok ke kiri melalui area terminal. Namun, saat melintas di bagian belakang terminal yang kondisinya gelap, tiba-tiba muncul tiga orang yang disebut mengenakan masker.
“Teman saya teriak, ‘ada begal’. Semua langsung lari. Saya waktu itu paling belakang,” kata LT saat ditemui awak media.
LT mengaku saat hendak melarikan diri, bajunya tiba-tiba ditarik. Pelaku kemudian menusuk bagian perut sebelah kanan serta mengenai jarinya.
Setelah melakukan aksinya, ketiga orang tersebut langsung melarikan diri. Diduga mereka kabur karena takut aksinya diketahui warga sekitar.
Dalam kondisi mengalami luka dan mengeluarkan darah, LT kemudian dibawa ke salah satu rumah sakit terdekat di Kota Pekalongan. Ia mendapat penanganan medis dan menjalani jahitan pada bagian perut serta jarinya.”Saya dijahit di bagian perut dan jari,” ujarnya.
Orang tua LT, DK (43), mengaku baru mengetahui kejadian tersebut setelah mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengabarkan anaknya masuk Unit Gawat Darurat (UGD).
DK kemudian mendatangi rumah sakit dan menanyakan kejadian tersebut kepada teman-teman LT. Setelah mendapat informasi awal, DK menghubungi layanan kepolisian melalui nomor 110.
“Alhamdulillah tidak lama, sekitar lima menit polisi datang dan melakukan klarifikasi terkait kejadian tersebut,” kata DK.
DK berharap kasus tersebut dapat diusut hingga tuntas. Dia meminta aparat tidak membiarkan aksi kekerasan dan kejahatan jalanan terjadi, terlebih korbannya merupakan seorang pelajar.
“Negara jangan kalah dengan preman. Kota Pekalongan harus dibersihkan dari para preman. Kalau Kota Pekalongan penuh preman, mau jadi apa kota yang kita cintai ini?” tegasnya.
DK juga mengingatkan para orang tua agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama ketika beraktivitas di luar rumah pada malam hari.”Semoga kejadian ini cukup yang terakhir buat kami. Selalu jaga anak-anak,” ujarnya.
Dia menilai keamanan di Kota Pekalongan perlu menjadi perhatian serius semua pihak.”Kota Pekalongan sudah tidak baik-baik saja. Ada korupsi, ada penjarahan, sekarang anak-anak juga menjadi korban. Miris dengan kondisi kota kita,” pungkasnya.
Kasus dugaan penyerangan terhadap pelajar tersebut kini diharapkan dapat ditindaklanjuti aparat kepolisian untuk mengungkap identitas dan motif para pelaku.




