PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Pengembangan urban farming di Kota Pekalongan terus diarahkan tidak hanya pada kemampuan kelompok dalam membudidayakan tanaman, tetapi juga pada penguatan kelembagaan, inovasi produk, hingga pemasaran agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
Yayasan Kolaborasi Pangan Indonesia saat ini mendampingi 21 kelompok urban farming di Kota Pekalongan. Dari hasil survei, terdapat kelompok yang sudah masuk kategori tumbuh, sementara 13 kelompok lainnya masih berada pada kategori dasar.
Konsultan Pendamping Urban Farming Yayasan Kolaborasi Pangan Indonesia, Herdian Satrya, mengatakan kelompok kategori tumbuh dinilai telah mampu menjalankan budidaya, kelembagaan, hingga pemasaran produk.
“Kelompok kategori tumbuh sudah mampu membudidayakan dengan baik, kelembagaannya berjalan, dan sudah memiliki pengalaman memasarkan produk. Sementara 13 kelompok kategori dasar masih dalam tahap belajar, terutama terkait budidaya,” ujar Herdian.
Menurutnya, pendampingan juga disesuaikan dengan tantangan lingkungan di Kota Pekalongan, salah satunya banjir yang dapat memengaruhi kondisi tanah dan keberhasilan tanaman.
“Ketika kelompok sudah semangat menanam, kemudian terjadi banjir dan tanaman mati atau busuk, semangat mereka bisa turun. Karena itu kami mulai lagi dari nol, bagaimana mengolah tanah, beradaptasi dengan kondisi iklim, sampai memastikan produk bisa berhasil dipanen,” katanya.
Pendampingan kemudian diarahkan agar kelompok tidak berhenti pada produksi hasil pertanian. Kelompok didorong menciptakan produk bernilai tambah sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan membiayai kegiatan secara mandiri.
“Kami mencoba mengubah pola dan mindset, bahwa produk harus memiliki kualitas yang baik, nilai jual, dan nilai tambah sehingga kegiatan kelompok bisa terus berkelanjutan,” tandasnya.
Dari proses pendampingan tersebut, sedikitnya telah muncul delapan bentuk inovasi. Di antaranya produk olahan pangan berupa bolu dan jenang terong ungu serta stik sayuran.
Ada pula teh artisan berbahan bunga telang dengan berbagai varian rasa hingga produk nonpangan berupa sabun dan sampo.
Selain inovasi produk, kelompok juga mengembangkan produk segar dengan peningkatan kualitas kemasan, budidaya hidroponik dan pertanian tanah, produksi pupuk organik, serta berbagai sarana pendukung budidaya.
Sejumlah kebun bahkan mulai dikembangkan sebagai lokasi edukasi dan agrowisata.
“Konsepnya green, healthy, dan sustainable. Jadi arahnya juga menuju ekonomi sirkular. Ada kelompok yang kebunnya ditata sebagai pusat edukasi dan agrowisata, sehingga siswa maupun masyarakat bisa belajar pertanian, berkunjung, bahkan memanen langsung,” imbuh Herdian.
Ke depan, pendampingan akan difokuskan pada kesiapan kelompok untuk tetap berjalan secara mandiri setelah program pendampingan berakhir. Penguatan sumber daya manusia, kelembagaan, peningkatan pendapatan, hingga kemampuan membiayai operasional menjadi perhatian utama.
Herdian menilai penguatan pemasaran juga menjadi tahap penting. Kelompok tidak perlu terburu-buru memperbanyak produk, melainkan menentukan pasar sasaran dan memperkuat produk yang memiliki potensi.
“Jangan hanya fokus membuat banyak produk. Lebih baik satu produk diperkuat terlebih dahulu.





