Lahan Eks Rob Pekalongan Disulap Jadi Sawah, Padi Biosalin Panen 6,6 Ton/Ha

Lahan Eks Rob Pekalongan Disulap Jadi Sawah, Padi Biosalin Panen 6,6 Ton/Ha
Pemanfaatan lahan eks rob di Kota Pekalongan terus menunjukkan hasil positif.Kamis (13/08/26).

PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Pemanfaatan lahan eks rob di Kota Pekalongan terus menunjukkan hasil positif. Pengembangan Padi Biosalin I dan II di lahan eks rob Klidungan, Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara, mampu tumbuh produktif dan menjadi alternatif pengembangan pertanian di tengah keterbatasan lahan. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinperpa Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati, usai panen bersama keempat Padi Biosalin I dan II, Rabu (12/8/2026).

Lili mengatakan, pengembangan padi Biosalin tersebut juga didukung penerapan teknologi melalui demplot smart farming. Mulai dari pengolahan lahan, penanaman hingga pemupukan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi budidaya.

Bacaan Lainnya

“Karena ketersediaan tenaga kerja terbatas, kita menggunakan rice transplanter untuk penanaman, kemudian pemupukan menggunakan drone dan teknologi lainnya. Pupuk yang digunakan juga sudah mendekati pupuk hayati,” jelasnya.

Menurutnya, lahan eks rob di wilayah utara Kota Pekalongan memiliki potensi yang cukup besar. Dari sekitar 95 hektare lahan potensial, sebanyak kurang lebih 56 hektare saat ini telah ditanami padi. Pada musim kemarau, varietas Biosalin dinilai lebih sesuai untuk dikembangkan karena memiliki kemampuan beradaptasi pada kondisi lahan yang terdampak salinitas.

Dari hasil panen sebelumnya, produktivitas Padi Biosalin juga menunjukkan hasil menggembirakan. Produktivitas di salah satu lokasi tercatat sekitar 6,6 ton per hektare, sementara hasil di wilayah Krapyak berdasarkan laporan BPS mencapai 8,2 ton per hektare. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa lahan eks rob tetap memiliki peluang untuk menghasilkan pangan secara optimal apabila dikelola dengan teknologi dan varietas yang tepat. Lili menegaskan, petani tidak perlu khawatir mengenai pemasaran hasil panen.

“Kalau panen itu no problem pasarnya, karena rice mill kita sudah menampung. Kalaupun tidak, Bulog sudah langsung menyerap,” ungkapnya.

Ia menambahkan, harga gabah yang diserap Bulog saat ini sekitar Rp6.500 per kilogram, sedangkan harga di pasar di luar Bulog berada di kisaran Rp7.100 hingga Rp7.300 per kilogram.
Ke depan, Dinperpa bersama para petani akan terus melakukan penguatan budidaya, termasuk pengendalian hama seperti tikus dan burung yang sempat menjadi keluhan petani.

“Dengan dukungan teknologi smart farming, pemilihan varietas yang sesuai, serta kepastian pasar, pengembangan Padi Biosalin di lahan eks rob diharapkan semakin produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian petani Kota Pekalongan,”tukasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *