PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Peserta Pelatihan Barista di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan mulai menguji kemampuan kewirausahaan melalui praktik penjualan langsung. Tak sekadar meracik kopi, peserta dituntut mampu menjalankan operasional usaha, melayani pelanggan, menentukan harga jual, hingga mencapai target penjualan.
Praktik lapangan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran setelah peserta mendapatkan materi teori dan praktik di kelas selama kurang lebih 25 hari. Kali ini, peserta membuka layanan penjualan minuman di area Pasar Banyurip dan area parkir Dinas Pendidikan Kota Pekalongan dengan menyasar konsumen umum, pegawai, maupun tamu yang beraktivitas di lingkungan perkantoran, Senin (10/8/2026).
Instruktur Pelatihan Barista SKB Kota Pekalongan, John, menjelaskan, praktik tersebut menjadi tahap penting untuk menerapkan pengetahuan yang sebelumnya telah diberikan, termasuk menghitung harga pokok produksi (HPP), mengenali bahan baku, serta menentukan harga jual produk.
“Hari ini merupakan rangkaian setelah mereka belajar teori dan produk di kelas. Mereka sudah membongkar HPP dan mengetahui bahan serta harga jualnya. Sekarang ilmu tersebut kami praktikkan langsung dengan berjualan,” jelasnya.
Beragam menu disiapkan peserta, mulai dari kopi seperti es kopi hazelnut, salted caramel, dan brown sugar, hingga minuman non-kopi seperti velvet taro, chocoa bliss, dan creamy matcha. Produk ditawarkan mulai harga Rp12 ribu.
Dalam praktik tersebut, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Salah satunya bertugas di lokasi Dinas Pendidikan, sementara kelompok lainnya menjalankan praktik penjualan di Pasar Banyurip. Untuk penjualan di Dinas Pendidikan, peserta menargetkan penjualan sebanyak 100 cup dengan metode penjualan secara langsung atau offline.
John menambahkan, praktik penjualan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bagian dari pelatihan. SKB juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas pengalaman peserta sekaligus mendukung keberlanjutan usaha rintisan setelah pelatihan.
“Setelah ini mereka betul-betul terjun langsung. Kami juga ada kerja sama dengan Bank Pekalongan untuk mendukung usaha rintisan mereka. Jadi mereka tidak hanya mempelajari ilmu kopi dan membuat produk, tetapi juga belajar bagaimana menjualnya,” katanya.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkala dengan melibatkan lebih banyak mitra. Selain memperkuat keterampilan teknis peserta, praktik penjualan secara langsung menjadi sarana untuk membangun pengalaman menghadapi konsumen, mengelola produk, dan memahami dinamika usaha secara nyata.
“Kami berharap kegiatan ini bisa dilakukan secara periodik dan kolaborasinya semakin luas, sehingga manfaatnya juga semakin besar,” sambungnya.
Salah satu peserta, Noval, mengaku mendapatkan pengalaman baru karena dapat terjun langsung menangani operasional penjualan, mulai dari membantu membuat minuman hingga melayani pelanggan.
“Seru karena kami mendapatkan pengalaman baru. Tidak hanya belajar sebagai barista, tetapi juga merasakan langsung suasana bekerja dan berjualan di lingkungan perkantoran,” ungkapnya.
Menurutnya, praktik tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana keterampilan barista dapat diterapkan dalam dunia kerja maupun usaha. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik mempelajari keterampilan barista dan memiliki kesempatan untuk bekerja maupun berusaha di bidang kopi.





