PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Proyek-proyek pembangunan kerap dipandang sebagai ladang bisnis yang menjanjikan keuntungan besar. Gedung-gedung berdiri megah, jalan dan jembatan dibangun, sementara para kontraktor sering dianggap menikmati hasil dari setiap pekerjaan yang mereka peroleh.
Namun, di balik gemerlap proyek konstruksi, tersimpan cerita yang jauh dari kesan mewah. Tekanan, pengawasan ketat, persaingan mendapatkan pekerjaan, hingga persoalan yang menguras biaya dan mental menjadi bagian yang jarang diketahui masyarakat.
Pengalaman itulah yang dialami AR (47), seorang mantan kontraktor asal Kota Pekalongan. Selama tujuh tahun menekuni dunia jasa konstruksi, ia mengaku lebih banyak merasakan tekanan dibanding menikmati keuntungan.”Orang melihat kontraktor itu enak karena pegang proyek. Padahal kenyataannya tidak seperti itu,” kata AR , Jumaat (3/7/2026).
Menurutnya, menjadi kontraktor bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak. Hampir setiap tahap pelaksanaan proyek berada dalam pengawasan berbagai pihak. Kesalahan sekecil apa pun, kata dia, dapat berujung pada teguran hingga sanksi.
“Setiap hari diawasi, setiap waktu banyak yang memonitor pekerjaan. Hukuman seperti sudah ada di depan mata kalau terjadi kesalahan. Belum lagi harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk menjamu demi mendapatkan proyek,” ujarnya.
AR menuturkan, tantangan tidak berhenti setelah proyek berhasil didapatkan. Keuntungan yang diterima, menurutnya, sering kali habis untuk biaya operasional, kebutuhan pelaksanaan pekerjaan, hingga mencari proyek berikutnya.
“Uang seperti cuma lewat. Setelah pekerjaan selesai, harus berjuang lagi mencari proyek baru. Banyak hambatan. Kalau tidak bertemu orang yang tepat, kadang justru dimanfaatkan orang,” tuturnya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi AR terjadi ketika dirinya mengaku mendapat tawaran proyek dari seorang oknum anggota dewan.
Menurut pengakuannya, sebelum pekerjaan dimulai, ia diminta menyerahkan uang puluhan juta rupiah dengan janji akan diberikan proyek.
“Saya diminta uang puluhan juta di depan. Dijanjikan proyek akan diberikan, akhirnya saya serahkan sesuai yang diminta. Tapi setelah itu saya terus menagih kejelasannya. Belum sempat selesai, oknum dewan tersebut meninggal dunia,” ungkapnya.
Setelah peristiwa itu, AR mengaku sempat memperoleh harapan ketika keluarga almarhum menyampaikan akan bertanggung jawab. Namun hingga kini, menurut pengakuannya, belum ada kepastian mengenai uang yang telah diserahkan.”Alhamdulillah waktu itu anaknya bilang akan bertanggung jawab. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” katanya.
Tekanan yang terus dirasakan selama bertahun-tahun akhirnya membuat AR mengambil keputusan besar. Ia memilih meninggalkan dunia kontraktor yang telah membesarkan sekaligus menguras tenaga dan pikirannya.
Baginya, beban mental menjadi harga paling mahal yang harus dibayar selama menjalankan proyek.”Setiap jam, setiap detik proyek dimonitor. Rasanya jantung copot terus. Beban mentalnya sangat berat. Itu yang membuat saya memutuskan mundur menjadi kontraktor,” ucapnya.
Kini AR memilih menjalani usaha lain yang dinilainya lebih tenang. Meski pendapatan tidak sebesar saat mengerjakan proyek konstruksi, ia mengaku dapat menjalani hari tanpa dihantui tekanan yang terus-menerus.
Kisah AR menjadi potret sisi lain dunia konstruksi yang jarang muncul ke permukaan. Di balik proyek-proyek bernilai miliaran rupiah, terdapat tekanan, persaingan, dan berbagai persoalan yang, menurut pengakuannya, tidak semua orang mampu menjalaninya.





