11 Siswa MI di Pekalongan Mual-Pusing Usai Santap MBG, Robin Hood Desak Transparansi

11 Siswa MI di Pekalongan Mual-Pusing Usai Santap MBG, Robin Hood Desak Transparansi
Foto ilustrasi.Minggu (26/09/26).

PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Sebanyak 11 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pringlangu 01 dan 03, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, diduga mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu 16 september 2026..

Para siswa dilaporkan mengalami sejumlah gejala, di antaranya mual dan pusing. Penanganan terhadap para siswa dilakukan oleh petugas puskesmas yang datang langsung ke sekolah.

Bacaan Lainnya

Ketua LSM Robin Hood 23, M Arif, mempertanyakan respons Satgas MBG Kota Pekalongan terhadap dugaan kejadian tersebut. Menurutnya, satgas seharusnya melakukan klarifikasi dan menyampaikan hasil penanganan kepada masyarakat.

“Kami mempertanyakan tugas Satgas MBG di Kota Pekalongan. Diduga tidak transparan dan merespons kejadian tersebut. Seharusnya melakukan klarifikasi dan menyampaikan kejadian tersebut kepada masyarakat,” kata Arif.Minggu (27/09/26).

Arif juga meminta agar pihak terkait menjelaskan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan MBG kepada para siswa tersebut. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui hasil pemeriksaan mengenai penyebab siswa mengalami gejala setelah mengkonsumsi makanan MBG.

“Harus diperlihatkan SPPG-nya, apa kesalahannya dan apa penyebabnya. Diduga tidak independennya tim Satgas MBG di Kota Pekalongan. Masyarakat berhak tahu SPPG siapa yang menyebabkan terjadinya keracunan 11 siswa,” ujarnya.

Dia juga berharap kepolisian, khususnya Polres Pekalongan Kota, menyampaikan hasil penyelidikan terkait dugaan kejadian tersebut secara transparan.

“Kami juga berharap kepada kepolisian, dalam hal ini Polres Pekalongan Kota, terkait hasil penyelidikan terjadinya keracunan. Kami berharap transparansi terkait SPPG tersebut, apakah ditutup atau mendapat teguran,” katanya.

Arif menilai keterbukaan informasi mengenai kejadian tersebut penting karena menyangkut keamanan makanan yang dikonsumsi anak-anak.

“Kalau begini didiamkan, bagaimana nasib anak-anak kita? Tidak ada transparansinya, keterbukaan masalah ini. Kita berhak menolak MBG,” ujarnya.

Dia pun menyerukan agar program MBG dikota pekalongan dihentikan apabila persoalan keamanan makanan dan dugaan kejadian tersebut tidak mendapatkan penjelasan yang transparan.

“Tolak MBG, tolak MBG, tolak MBG,” tegas Arif.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *