PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Pengakuan mengejutkan disampaikan dua pelajar berusia 14 tahun terkait dugaan maraknya aksi gangster dan tawuran di Kota Pekalongan. Di balik aksi yang kerap berlangsung di tempat-tempat sepi, mereka mengungkap adanya komunikasi melalui media sosial yang diduga digunakan untuk mengatur pertemuan, melibatkan anggota kelompok, hingga menyaksikan pertarungan secara langsung melalui siaran live.
Salah satu pelajar berinisial AG (14), warga Kota Pekalongan, mengaku mengetahui adanya grup khusus di media sosial yang berisi anggota kelompok aksi maupun mereka yang hanya menjadi penonton. Menurut dia, pertarungan yang dilakukan kelompok tersebut bahkan disiarkan secara langsung dan ditonton oleh anggota lainnya.
“Di media sosial ada grup khusus tim aksi dan penonton. Saat melakukan aksi ditonton live. Ini seperti bentuk keberanian dan ada yang menyuruh supaya tarung,” ujar AG saat menceritakan pengalamannya,Senin(14/9/26).
Menurut AG, aksi pertarungan tersebut bukan kejadian yang berlangsung sesekali. Ia menyebut kegiatan serupa diduga dilakukan berulang kali dan bahkan hampir setiap malam.
Sejumlah lokasi disebut pernah menjadi tempat berkumpul atau berlangsungnya aksi, di antaranya kawasan Slamaran, Tirto, Poncol, terminal hingga sekitar exit tol. Waktu pelaksanaan, kata AG, biasanya dimulai selepas magrib dan dapat berlangsung hingga dini hari.
“Pertarungan ini sudah sering, bisa dikatakan tiap hari. Biasanya habis magrib sampai jam 01.00 malam. Lokasinya tempat sepi,” ungkapnya.
Kesaksian serupa disampaikan pelajar berinisial AK (14), juga warga Kota Pekalongan. Ia mengungkap dugaan adanya tempat tertentu yang digunakan untuk menyimpan senjata tajam sebelum benda tersebut diambil untuk digunakan dalam aksi.“Kalau terkait senjata tajam ada tempat penyimpanan. Nanti ada bagian yang mengambil,” kata AK.
AK mengaku aksi tersebut dapat terjadi hampir setiap malam. Jumlah orang yang terlibat dalam pertarungan pun, menurut dia, tidak selalu sama. Dalam sejumlah kejadian, peserta bahkan disebut dapat berlarian setelah kalah atau menghadapi pengeroyokan. “Kejadian bisa dikatakan tiap malam. Yang kalah lari kocar-kacir. Kadang kala kita dikeroyok, tidak tentu berapa yang akan tarung,” ujarnya.
Tak hanya soal aksi kekerasan dan dugaan kepemilikan senjata tajam, AK juga mengaku pernah melihat sejumlah pelajar berada dalam kondisi seperti mabuk atau setengah sadar ketika aksi berlangsung.
Namun, ia menegaskan tidak mengetahui secara pasti penyebab kondisi tersebut, apakah akibat mengonsumsi minuman beralkohol atau menggunakan obat-obatan tertentu.“Saya kadang melihat pelajar itu kondisinya mabuk atau setengah sadar. Terkait dia minum bir atau pakai obat, saya tidak tahu. Yang jelas setengah sadar,” tutur AK.
AK juga mengungkap dugaan adanya keterlibatan pelaku-pelaku lama yang masih memiliki hubungan dengan kelompok tersebut. Menurutnya, pihak yang ingin mengungkap siapa orang yang diduga mengatur aksi maupun menyimpan senjata tajam dapat menelusuri jaringan pelaku lama.“Kalau mau menangkap yang mengadakan dan menyimpan senjata, rata-rata pelaku lama,” katanya.
Kesaksian kedua pelajar tersebut menggambarkan bagaimana aksi kekerasan di kalangan remaja diduga tidak hanya berlangsung secara langsung di lapangan, tetapi juga memanfaatkan media sosial sebagai ruang komunikasi dan koordinasi. Jika benar terjadi, pola tersebut berpotensi membuat aksi semakin sulit dipantau karena perencanaan dapat dilakukan secara tertutup, sementara aksi justru dipertontonkan kepada anggota kelompok lainnya.
Dugaan maraknya aksi gangster dan tawuran yang melibatkan pelajar menjadi perhatian serius. Selain mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat, aksi semacam itu berisiko menyebabkan korban luka hingga kehilangan nyawa.
Karena itu, upaya pencegahan tidak hanya membutuhkan pengawasan dan penindakan aparat, tetapi juga keterlibatan orang tua, sekolah, serta masyarakat. Penelusuran terhadap pola komunikasi kelompok, lokasi yang kerap digunakan untuk berkumpul, serta pihak-pihak yang diduga mengoordinasikan aksi menjadi penting untuk mencegah kejadian serupa terus berulang.





