PANTURA24.COM,PEKALONGAN – Menanggapi keluhan warga Griya Tirto Asri, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Tirto, terkait distribusi air PDAM yang hanya mengalir pada malam hingga dini hari, Direktur PDAM Kabupaten Pekalongan, Nur Wachid, mengatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti laporan tersebut.
Nur Wachid menyampaikan, PDAM akan menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan mencari penyebab terganggunya distribusi air kepada pelanggan.
“Terkait keluhan pelanggan, makanya kita akan langsung turunkan tim untuk mencari apa penyebabnya. Apakah karena debit atau apa, apakah karena panas atau ada kebocoran,” kata Nur Wachid melalui sambungan telepon, Selasa (25/8/2026).
Ia mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan bagian teknik agar dilakukan pengecekan langsung di wilayah yang dikeluhkan warga.
“Sebentar saya mau menghubungi Kabag Teknik untuk merapatkan barisan menuju ke sana,” ujarnya singkat.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjawab keluhan warga GTA Griya Tirto Asri yang selama sekitar sepekan terakhir mengaku kesulitan mendapatkan pasokan air pada siang hingga sore hari. Berdasarkan keluhan warga, air disebut baru mulai mengalir pada malam hari hingga dini hari dengan waktu yang terbatas.
Namun, persoalan pelayanan air PDAM ternyata tidak hanya dikeluhkan warga di Kecamatan Tirto.Keluhan serupa juga disampaikan warga Perumahan Dukuh Tekisan, RT 17 dan RT 19, Desa Dororejo, Kecamatan Doro. Salah seorang warga, Matori, mengaku gangguan distribusi air di wilayahnya sudah berlangsung cukup lama.
Menurutnya, selama lebih dari 10 tahun menjadi pelanggan, pasokan air PDAM di wilayah tersebut masih sering mengalami gangguan atau trouble. Kalaupun air mengalir, kata dia, biasanya baru terjadi menjelang tengah malam.
“PDAM yang ada di wilayah kami, khususnya di wilayah Doro, itu sudah lama, hampir 10 tahunan lebih. Tapi sering trouble, sering ada gangguan. Kalau mengalir tiap malam rata-rata jam setengah 12 malam, jam 12 malam. Itu pun debitnya tidak besar,” kata Matori.
Kondisi tersebut, menurut Matori, semakin menjadi persoalan karena debit air yang kecil justru tidak sebanding dengan tagihan yang harus dibayarkan pelanggan.
Ia menjelaskan, lokasi perumahan tempat tinggalnya berada di jalur yang menurun dari arah Doro menuju Sawangan. Dengan tekanan air yang dinilai rendah, ia menduga kerap terjadi kondisi di mana udara masuk ke jaringan atau pipa.
Menurutnya, kondisi tersebut diduga turut memengaruhi perputaran meteran air. “Karena debit airnya kecil, di perumahan kami wilayah Doro itu agak turun dari Doro ke arah Sawangan. Akhirnya yang terjadi, angin yang keluar. Dan itu menyebabkan putaran jarum meter air itu sendiri akhirnya putarnya cepat,” ujarnya.
Matori mengaku telah beberapa kali menyampaikan keluhan mengenai persoalan tersebut. Namun, menurut dia, keluhan yang disampaikan pelanggan justru sering mendapat jawaban bahwa kemungkinan terdapat kebocoran pada instalasi rumah tangga.
“Kalau dikomplain, bahasanya instalasi rumah tangga ada yang bocor atau apa begitu. Tapi kalau komplain, selalu kita yang disalahkan. Bukan memberikan solusi, tetapi pelanggan yang selalu disalahkan,” katanya.
Ia mengaku tagihan air di rumahnya pernah mencapai rata-rata sekitar Rp600 ribu per bulan. Menurutnya, jumlah tersebut cukup membebani untuk penggunaan rumah tangga, terlebih pelayanan air yang diterima dinilai belum memuaskan.
“Kalau ingin tahu, rata-rata punya saya itu rumah tangga, tapi habisnya per bulan Rp600 ribu tagihannya. Makanya saya sering telat. Kenapa? Karena kalau dikomplain, selalu kita yang disalahkan, bukan memberikan solusi,” ujarnya.
Menurut Matori, persoalan tagihan yang terus membengkak juga dialami sejumlah pelanggan lain di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, beberapa warga memilih sambungan PDAM mereka diputus karena tidak mampu melunasi tunggakan yang nilainya terus bertambah.
“Ini saja di sekeliling rumah kami banyak yang diputus karena tagihannya membengkak terus. Ada yang Rp1,5 juta, ada yang Rp2 juta tunggakannya. Akhirnya karena pelayanannya tidak memuaskan, mendingan diputus saja,” katanya.
Matori mempertanyakan kondisi distribusi air yang dinilai tidak maksimal, sementara jumlah pelanggan PDAM terus bertambah.
“Kita berpikir logis saja. Debit airnya kurang besar, tapi faktanya di lapangan pelanggannya tambah terus,” ujarnya.
Ia sendiri mengaku pernah memiliki tunggakan tagihan hingga mencapai sekitar Rp6 juta. Menurutnya, tunggakan tersebut terjadi karena kekecewaannya terhadap pelayanan yang diterima, ditambah nilai tagihan bulanan yang menurutnya cukup tinggi untuk kebutuhan rumah tangga.
Matori mengatakan, pihak PDAM pernah mendatangi rumahnya untuk menagih tunggakan dan menawarkan pembayaran secara angsuran. Ia pun akhirnya melakukan pembayaran.
“Dulu itu tagihannya membengkak sampai Rp6 juta. Karena jujur saja saya kesal, pelayanannya seenaknya sendiri. Isinya tagihan per bulan rata-rata Rp600 ribu. Rumah tangga Rp600 ribu kan kaget,” katanya.
Ia menambahkan, belum lama ini petugas dari cabang Kedungwuni juga datang ke rumahnya untuk melakukan penagihan. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menyampaikan harapan agar pelayanan PDAM dapat diperbaiki.“Kemarin ada petugas dari Kedungwuni datang ke rumah. Saya juga ngomong, tolong untuk pelayanan yang terbaik,” ujarnya.
Menurut Matori, keluarganya kemudian melunasi sebagian besar tunggakan yang ada. Pembayaran yang dilakukan istrinya disebut mencapai lebih dari Rp3 juta.“Yang kemarin dibayar istri saya itu Rp3 jutaan lebih, dilunasi sekalian,” katanya.
Keluhan warga di Kecamatan Tirto dan Doro tersebut menjadi catatan bagi PDAM Kabupaten Pekalongan untuk melakukan evaluasi terhadap distribusi air, tekanan atau debit air, kondisi jaringan, hingga persoalan pembacaan meter dan tagihan pelanggan.





