Gerakan Semen Rakyat: Warga Lebakbarang Turun Tangan Perbaiki Jalan Kabupaten yang Rusak Parah

Gerakan Semen Rakyat: Warga Lebakbarang Turun Tangan Perbaiki Jalan Kabupaten yang Rusak Parah
Ratusan warga turun langsung memperbaiki jalan rusak melalui aksi bertajuk *Gerakan Semen Rakyat*, Senin (22/6/2026).

PANTURA24.COM,PEKALONGAN – Penantian panjang terhadap perbaikan infrastruktur akhirnya mendorong warga Dukuh Petungkon, Desa Tembelang Gunung, Kecamatan Lebakbarang, mengambil langkah nyata. Tanpa menunggu alat berat maupun proyek pemerintah datang, ratusan warga turun langsung memperbaiki jalan rusak melalui aksi bertajuk *Gerakan Semen Rakyat*, Senin (22/6/2026).

Ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Tembelang Gunung, Ketingkrang hingga Kecamatan Paninggaran itu selama bertahun-tahun menjadi keluhan masyarakat. Kerusakan di sejumlah titik membuat aktivitas warga terganggu dan meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat musim hujan.

Bacaan Lainnya

Sejak pagi hari, suasana kebersamaan tampak mewarnai lokasi kegiatan. Warga dari berbagai kalangan berkumpul membawa peralatan dan material yang telah dipersiapkan secara swadaya. Para pemuda terlihat sigap mengangkut pasir dan semen, sementara kaum bapak bergantian mencampur adukan dan melakukan pengecoran jalan. Di sisi lain, para ibu menyiapkan makanan dan minuman untuk memastikan kegiatan berjalan lancar.

Aksi tersebut menjadi gambaran kuat bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat pedesaan. Di saat harapan terhadap perbaikan belum juga terwujud, warga memilih menjadi bagian dari solusi.

Tokoh masyarakat setempat, Tutur Atmojo, mengatakan jalan yang diperbaiki memiliki peran vital bagi kehidupan warga. Selain menjadi jalur utama transportasi, akses tersebut juga menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan.

“Jalan ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Karena kerusakannya semakin parah dan belum mendapatkan penanganan yang memadai, warga berinisiatif melakukan pengecoran secara swadaya agar akses transportasi lebih aman,” ujarnya.

Kondisi jalan yang rusak memang menjadi persoalan yang dirasakan setiap hari oleh warga. Saat musim penghujan tiba, lubang-lubang jalan tertutup genangan air sehingga membahayakan pengguna jalan. Pelajar yang setiap hari berangkat ke sekolah menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak.

Koordinator kegiatan, Kasturah, mengungkapkan bahwa kekhawatiran terbesar warga bukan hanya soal kenyamanan berkendara, tetapi juga keselamatan masyarakat.

“Anak-anak sekolah sering kesulitan melintas, bahkan tidak jarang ada yang terjatuh. Selain itu, ketika ada warga yang sakit dan membutuhkan penanganan cepat, kondisi jalan yang rusak bisa memperlambat perjalanan menuju fasilitas kesehatan,” katanya.

Menurutnya, seluruh kegiatan dalam Gerakan Semen Rakyat dilaksanakan murni dari hasil gotong royong masyarakat. Dana dan material berasal dari iuran sukarela warga serta dukungan para perantau yang tergabung dalam komunitas Guyub Rukun Selawase Tembelang Gunung.

Meski jalan mulai diperbaiki secara bertahap, warga menyadari bahwa upaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Pengecoran swadaya hanya menjadi langkah darurat untuk mengurangi risiko kecelakaan dan memperlancar mobilitas masyarakat.

Karena itu, warga berharap Pemerintah Kabupaten Pekalongan dapat segera memberikan perhatian melalui program perbaikan permanen. Mereka juga meminta para wakil rakyat dari Daerah Pemilihan V untuk lebih aktif memperjuangkan kebutuhan infrastruktur wilayah pegunungan yang selama ini masih tertinggal.

“Apa yang kami lakukan hari ini adalah bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan keselamatan bersama. Namun kami tetap berharap ada penanganan permanen dari pemerintah agar jalan ini benar-benar layak digunakan,” tutur Kasturah.

Di balik tumpukan pasir, semen, dan keringat yang tercurah sepanjang hari, Gerakan Semen Rakyat menyimpan pesan yang lebih besar daripada sekadar memperbaiki jalan. Aksi itu menjadi simbol kepedulian, solidaritas, dan kekuatan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan.

Ketika bantuan belum datang, warga Tembelang Gunung memilih bergerak. Dan dari hamparan jalan yang perlahan kembali rata, tumbuh harapan agar perjuangan masyarakat ini mendapat tindak lanjut nyata demi masa depan mobilitas dan perekonomian wilayah pegunungan yang lebih baik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *