Guru PAUD Dibekali Deteksi Dini Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Guru PAUD Dibekali Deteksi Dini Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Deteksi Dini Kekerasan dan Perkembangan serta Literasi Digital di aula TP PKK Kota Pekalongan,Kamis (21/5/2026

PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang semakin memengaruhi kehidupan anak dan remaja, perlindungan terhadap perempuan dan anak menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sebagai langkah preventif menghadapi meningkatnya risiko kekerasan, pelecehan seksual, hingga dampak negatif penggunaan internet dan gadget, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Pekalongan menggelar kegiatan sosialisasi pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP), Kekerasan Terhadap Anak (KTA), Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Anak Berhadapan Hukum (ABH), dan perkawinan anak dengan tema “Deteksi Dini Kekerasan dan Perkembangan serta Literasi Digital”, Kamis (21/5/2026) di aula TP PKK Kota Pekalongan.

Kepala DPMPPA Kota Pekalongan, Sriyana mengatakan bahwa kegiatan tersebut menghadirkan guru PAUD se-Kota Pekalongan sebagai garda terdepan dalam membangun kesadaran dan pengawasan terhadap anak sejak usia dini.

Bacaan Lainnya

Ia mengungkapkan bahwa sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat di masyarakat. Di satu sisi, kemajuan digital memberikan manfaat besar, namun di sisi lain juga membawa dampak negatif, terutama bagi anak-anak dan perempuan.

Menurutnya, penggunaan telepon genggam dan internet yang tidak terkontrol dapat membuka akses terhadap berbagai konten yang tidak layak. Kurangnya pengawasan serta minimnya pemahaman dari orang tua maupun guru menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak rentan menjadi korban kekerasan, termasuk pelecehan seksual.

“Kasus yang terjadi saat ini bukan hanya menimpa orang dewasa, tetapi juga perempuan dan anak-anak. Karena itu, melalui kegiatan ini DPMPPA memberikan pemahaman tentang deteksi dini agar gejala-gejala kekerasan bisa diketahui lebih cepat sehingga dapat dicegah sebelum terjadi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sosialisasi ini juga bertujuan meningkatkan kemampuan guru PAUD dalam mengenali tanda-tanda awal adanya kekerasan seksual maupun kekerasan terhadap perempuan dan anak. Para guru diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan dalam menyebarluaskan edukasi kepada tenaga pendidik lainnya.

“Kami mengundang guru PAUD agar ilmu yang didapat bisa diteruskan kepada guru lain. Harapannya, mereka mampu mendeteksi lebih dini apabila terdapat gejala terkait pelecehan seksual, terutama yang dialami perempuan dan anak,” tambahnya.

Sementara itu, Bunda PAUD Kota Pekalongan, Inggit Soraya mengapresiasi sinergi yang dibangun DPMPPA bersama Bunda PAUD dan TP PKK dalam menangani berbagai persoalan sosial yang masih banyak terjadi di tengah masyarakat.

Ia menilai, perkembangan digital saat ini membawa tantangan besar bagi keluarga maupun dunia pendidikan. Oleh karena itu, pengawasan terhadap penggunaan gadget dan internet pada anak harus menjadi perhatian bersama.

“Sekolah dan guru merupakan rumah kedua bagi anak-anak setelah keluarga di rumah. Karena itu, tanggung jawab terhadap anak bukan hanya milik orang tua, tetapi juga guru dan lingkungan pendidikan,” ujarnya.

Menurutnya, orang tua maupun pendidik harus mampu mengenali perubahan perilaku anak sebagai bentuk deteksi dini apabila anak mengalami kekerasan atau tekanan tertentu. Selain itu, pengaturan screen time dan pendampingan penggunaan gadget untuk kegiatan positif menjadi langkah penting dalam mencegah dampak buruk perkembangan digital.

“Sebagai orang tua kita harus peka dan peduli terhadap perubahan perilaku anak. Pengawasan khusus sangat diperlukan karena pengaruh digital dapat menjadi sangat berbahaya apabila tidak dikontrol dengan baik,” tandasnya.

Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan perempuan dan anak semakin meningkat serta mampu menekan angka kekerasan yang masih terjadi, khususnya di Kota Pekalongan.

“Harapannya, kegiatan ini dapat mengurangi berbagai permasalahan yang ada di masyarakat dan menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Pekalongan,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *