PANTURA24.COM,PEKALONGAN – Dugaan ketidaksesuaian standar dalam penyajian program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, keluhan datang dari SD Negeri Kemplong, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, setelah beredar foto di grup WhatsApp wali murid dan guru yang menunjukkan kondisi menu yang dinilai tidak layak konsumsi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, temuan tersebut terjadi dalam tiga hari berbeda. Pada 11 April 2026, dilaporkan ayam berbau dan berlendir. Tiga hari kemudian, 14 April 2026, ditemukan lalat hijau pada menu ayam. Sehari berselang, 15 April 2026, kembali ditemukan telur lalat pada sajian yang sama. Program MBG tersebut diketahui dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kemplong.
Ketua Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK RI) Pekalongan Raya, Zaenuri, menilai kejadian berulang ini mencerminkan lemahnya pengawasan dan rendahnya standar operasional di dapur penyedia MBG.
“Seharusnya SPPG yang tidak kompeten ditutup sementara. Ini sudah tiga kali berturut-turut menyajikan makanan yang tidak layak. Ini bukan sekadar kelalaian biasa,” ujar Zaenuri, Senin (20/4/2026).
Ia mendesak pihak terkait, mulai dari Satgas MBG, DPRD, hingga Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan, untuk segera turun tangan dan mengambil langkah tegas. Menurut dia, tindakan preventif perlu dilakukan sebelum muncul korban.
“Jangan menunggu ada korban baru bertindak. Penutupan sementara perlu dipertimbangkan sebagai bentuk evaluasi,” katanya.
Zaenuri menambahkan, pihaknya akan melakukan klarifikasi langsung ke dapur SPPG Kemplong guna memastikan kebenaran informasi yang beredar sekaligus mengumpulkan data untuk keperluan laporan pengawasan.
Selain itu, GNPK RI juga berencana melayangkan surat kepada seluruh dapur SPPG di wilayah tersebut agar lebih berhati-hati dalam pengadaan bahan makanan serta menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara ketat.
“Program ini tujuannya baik, untuk memenuhi gizi anak-anak. Jangan sampai justru membahayakan kesehatan. Pengawasan bahan baku dan proses pengolahan harus benar-benar diperhatikan,” ujarnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak Kepala SPPG Kemplong Wiradesa maupun pemilik dapur belum memberikan keterangan resmi terkait temuan tersebut.





