PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Upaya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan menghadapi perubahan iklim terus dilakukan SMA Negeri 3 Pekalongan melalui aksi nyata di lingkungan sekolah. Kali ini, para peserta didik berinovasi memanfaatkan limbah kapuk randu yang berguguran di halaman belakang sekolah sebagai alternatif media tanam untuk membudidayakan kangkung secara hidroponik. Kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman belakang SMA Negeri 3 Pekalongan, Selasa (20/10/2026).
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Negeri 3 Pekalongan, Steffi Dian Kemalasari, menjelaskan bahwa, kegiatan ini merupakan bagian dari rencana aksi program Sekolah Iklim. Inisiatif tersebut berangkat dari potensi lingkungan sekolah yang memiliki sekitar tiga hingga empat pohon randu, tetapi kapuk yang jatuh selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui kegiatan ini, kata Steffi, limbah organik tersebut diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi para siswa.
“Anak-anak mencoba menanam benih kangkung dengan memanfaatkan limbah kapuk randu sebagai media tanam pengganti rockwool,”ucapnya.
Steffi berharap, siswa yang menjadi penggerak Sekolah Iklim ini bisa memberikan contoh kepada teman-temannya bahwa banyak limbah di lingkungan sekolah maupun rumah yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.
Ia menyebut, kegiatan ini melibatkan 30 peserta didik, terdiri atas lima siswa penggerak yang sebelumnya mengikuti sosialisasi Sekolah Iklim dan 25 siswa dari ekstrakurikuler pecinta alam Cakrawala Ganesha. Menurutnya, bagi para peserta, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama dalam menguji pemanfaatan kapuk randu sebagai media tanam.
“Sebelum digunakan, kapuk terlebih dahulu disterilisasi menggunakan larutan PK untuk membantu meminimalkan risiko pertumbuhan jamur. Benih kangkung kemudian ditanam dengan metode hidroponik sederhana, sedangkan wadah tanamnya memanfaatkan galon bekas sebagai bentuk penggunaan kembali barang yang sudah tidak terpakai,”terangnya.
Ke depan, ia menegaskan, SMA Negeri 3 Pekalongan berencana mengembangkan aksi peduli lingkungan melalui pemilahan sampah organik, terutama sisa makanan, untuk diolah menjadi pupuk cair yang dapat dimanfaatkan bagi tanaman di sekitar sekolah.
Dengan adanya rangkaian kegiatan ini, pihaknya berharap peserta didik semakin kreatif, mandiri, dan terbiasa menerapkan prinsip pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari.
“Langkah sederhana tersebut diharapkan menjadi awal tumbuhnya generasi muda yang peduli terhadap kelestarian lingkungan dan memiliki peran nyata dalam menghadapi perubahan iklim,”bebernya.
Salah satu peserta rencana aksi Sekolah Iklim, Sumayyah Muthmainnah Izzatunnisa’ dari kelas X.6, mengatakan bahwa inovasi ini berangkat dari keinginan untuk mengubah limbah di sekitar sekolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna. Menurutnya, pemanfaatan kapuk randu dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan media tanam yang sulit terurai.
“Kami mencoba memanfaatkan limbah kapuk yang ada di lingkungan sekolah karena selama ini hanya jatuh dan belum digunakan. Dengan menjadikannya media tanam kangkung, kami ingin menyelesaikan dua persoalan sekaligus, yaitu memanfaatkan limbah kapuk dan mengurangi penggunaan rockwool yang sulit terurai, sementara kapuk merupakan bahan organik yang lebih mudah terurai,” ungkap Sumayyah.
Ia berharap, program tersebut dapat terus berjalan hingga tanaman kangkung berhasil dipanen, bahkan dikembangkan untuk penanaman berikutnya.
“Metode serupa juga berpotensi diterapkan di rumah dengan menggunakan jenis tanaman lain, seperti bayam, selada, seledri, dan sebagainya sehingga manfaat kegiatan tidak berhenti di lingkungan sekolah saja,”pungkasnya.





