PANTURA24.COM,SEMARANG – Video tawuran pelajar di Kota Pekalongan yang viral di media sosial mendapat sorotan dari Gerakan Rakyat Anti Madat (GERAM) Jawa Tengah.
Ketua DPD GERAM Jateng, Havid Sungkar, SH., MH., menilai aksi tawuran tersebut harus menjadi alarm keras bagi semua pihak, terlebih jika informasi mengenai dugaan konsumsi pil koplo, tembakau sintetis, atau minuman keras sebelum bentrokan benar adanya.
Menurut Havid, persoalan tersebut tidak boleh berhenti pada pembubaran kelompok pelajar yang terlibat tawuran.Aparat diminta mengusut lebih jauh kemungkinan adanya penyalahgunaan zat serta mencari tahu dari mana zat tersebut diperoleh.Rabu (07/10/26).
«”Saya mengutuk keras tawuran pelajar yang terjadi di Pekalongan. Kalau benar sebelum melakukan tawuran mereka mengonsumsi pil koplo dan tembakau sintetis, atau minuman keras, ini sudah bukan sekadar kenakalan pelajar,” tegas Havid.»
Ia mengatakan, dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan proses hukum. Namun jika terbukti, persoalannya menjadi jauh lebih serius karena menyangkut keselamatan pelajar sekaligus potensi jaringan peredaran zat yang disalahgunakan.
“Jangan hanya berhenti pada pertanyaan siapa yang tawuran. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah siapa yang menyediakan zat yang mereka konsumsi, dari mana mereka mendapatkannya, dan mengapa anak-anak usia sekolah bisa begitu mudah terpapar,” ujarnya.
Havid meminta tawuran pelajar tidak dianggap sekadar aksi kenakalan remaja yang selesai setelah kelompok dibubarkan.
Menurutnya, kekerasan di jalan dapat berkembang menjadi persoalan serius, terutama apabila pelaku berada di bawah pengaruh zat tertentu.
“Kalau kita hanya menunggu video tawuran viral, kemudian bergerak setelah ada korban, berarti kita terlambat. Pencegahan harus dilakukan sebelum tawuran terjadi,” katanya.
Ia menilai seluruh pihak perlu melihat persoalan secara lebih menyeluruh. Bukan hanya siapa pelaku di lapangan, tetapi juga faktor yang mendorong mereka melakukan kekerasan.
GERAM Jateng mendesak kepolisian, BNN, pemerintah daerah, sekolah, orang tua, serta masyarakat memperkuat sinergi untuk mencegah tawuran dan penyalahgunaan zat di kalangan pelajar.Havid juga meminta pengawasan terhadap peredaran obat-obatan maupun zat yang berpotensi disalahgunakan oleh anak-anak dan remaja diperketat.
Menurutnya, langkah represif setelah tawuran terjadi tetap diperlukan. Namun upaya pencegahan harus diperkuat sejak dini, termasuk pemetaan titik-titik rawan berkumpulnya kelompok pelajar.
Sepanjang 2026, aparat di wilayah Pekalongan juga telah menangani sejumlah persoalan yang berkaitan dengan konvoi, potensi tawuran, dan kenakalan pelajar.
Pada Mei 2026, puluhan pelajar diamankan Polres Pekalongan dalam aksi konvoi. Dalam penanganan tersebut, polisi juga menemukan minuman keras dan petasan.
Kemudian pada Juni 2026, polisi kembali mengamankan tiga pemuda yang diduga hendak terlibat keributan di kawasan Kajen setelah adanya laporan masyarakat.
Rangkaian kejadian tersebut, menurut Havid, menunjukkan bahwa persoalan kenakalan remaja dan potensi tawuran membutuhkan penanganan yang konsisten.
Havid juga mengingatkan orang tua dan sekolah agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.Pengawasan, kata dia, tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah ketika pelajar berada di lingkungan pendidikan.
“Anak-anak ini seharusnya berada di ruang kelas, lapangan olahraga, tempat belajar dan kegiatan positif. Bukan membawa senjata, mencari lawan, kemudian turun ke jalan untuk tawuran,” katanya.
“Kalau ini dibiarkan, kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi muda,” sambungnya.
GERAM Jateng menyatakan siap mengambil bagian dalam edukasi dan pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
Havid berharap aparat penegak hukum dan seluruh elemen masyarakat tidak menunggu sampai jatuh korban untuk bergerak.
“Jangan tunggu ada darah di jalan baru semua pihak bergerak. Pencegahan harus dimulai sekarang,” pungkas Havid.





