Pompa Air Tak Berfungsi, Banjir di Pesanggrahan Pekalongan Tak Kunjung Surut

Pompa Air Tak Berfungsi, Banjir di Pesanggrahan Pekalongan Tak Kunjung Surut
Warga Desa Pesanggrahan, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, kembali menghadapi persoalan banjir yang tak kunjung surut.Sabtu (04/04/26).

PANTURA24.COM,PEKALONGAN – Warga Desa Pesanggrahan, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, kembali menghadapi persoalan banjir yang tak kunjung surut. Penyebab utamanya diduga karena mesin pompa penyedot air yang hingga kini tidak berfungsi, membuat genangan di sejumlah titik permukiman bertahan lebih lama dari biasanya.

Bacaan Lainnya

Sejumlah gang di wilayah RT setempat dilaporkan masih tergenang air, bahkan sejak sebelum perayaan Idulfitri. Kondisi ini tak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari.

Ketua RT 05, Saipul Bahri, mengungkapkan bahwa mesin pompa sebenarnya sempat berperan penting dalam mengatasi banjir sebelumnya. Saat banjir besar melanda beberapa waktu lalu, pompa masih beroperasi dan mampu mempercepat surutnya air.

“Waktu banjir besar dulu, air sempat surut saat puasa. Sekitar satu minggu sudah bisa dilewati motor, karena mesin pompa masih menyala. Tapi setelah itu berhenti, sampai sekarang tidak pernah menyala lagi. Bahkan saat hujan kemarin juga tidak difungsikan,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (4/4/2026).

Menurut Saipul, gangguan pada aliran listrik disebut-sebut menjadi penyebab utama berhentinya pompa. Namun hingga kini, belum ada kejelasan tindak lanjut dari pihak terkait. “Katanya listrik mati dan pihak PLN akan datang, tapi sampai sekarang tidak ada yang datang,” tambahnya.

Selain persoalan teknis, warga juga menyoroti minimnya kesiapsiagaan petugas yang bertanggung jawab atas operasional pompa. Mereka menilai petugas tidak siaga, terutama saat kondisi cuaca sedang tidak menentu.

“Petugasnya kalau tidak disuruh tidak datang. Seharusnya siaga, apalagi saat musim hujan,” keluh Saipul.

Dampak dari tidak berfungsinya pompa ini cukup luas. Setidaknya empat RT masih terendam banjir, dengan masing-masing wilayah dihuni sekitar 60 kepala keluarga. Genangan air bahkan disebut sudah terjadi sejak sebelum bulan Syawal dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan surut.

Warga mengaku telah berulang kali melaporkan kondisi tersebut, namun belum ada tindakan nyata. Mereka juga mempertanyakan kondisi tiga unit mesin pompa yang tersedia terdiri dari satu mesin listrik dan dua mesin berbahan bakar solar yang semuanya dilaporkan tidak dapat digunakan.

“Kalau memang listrik mati, mesin diesel seharusnya bisa digunakan. Tapi ini semuanya mati,” tegas Saipul.

Tak hanya itu, warga juga mengkritik kinerja petugas yang dinilai tidak maksimal, sementara di sisi lain muncul wacana kenaikan gaji. Berdasarkan informasi yang beredar, honor petugas bersumber dari PSDA selama enam bulan, sementara sisanya diharapkan berasal dari desa.

“Kerjanya tidak maksimal, tapi minta naik gaji. Itu jelas tidak pantas,” imbuhnya.

Kini, warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk mengatasi persoalan tersebut. Perbaikan mesin pompa serta peningkatan kesiapsiagaan petugas dinilai menjadi langkah mendesak, terutama di tengah musim hujan yang masih berlangsung.

“Harapan kami sederhana, mesin pompa bisa berfungsi normal kembali dan petugas selalu standby. Jadi kalau hujan besar, air bisa cepat surut,” pungkas Saipul.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *