BI Garap Potensi Santri, QRIS Masuk Pesantren Kembangkan Transaksi Non Tunai

Kepala Unit Data dan Statistik BI Tegal, Taufik memberikan sosialisasi QRIS kepada santri dan pengurus Ponpes Al Fusha di Desa Rowocacing, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Pantura24.com, Kabupaten Pekalongan – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal terus mendorong digitalisasi transaksi masuk dunia pendidikan maupun pesantren. Digitalisasi yang dimaksud adalah perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

“Potensi ekonomi di dunia pendidikan dan pesantren sangatlah besar sehingga QRIS diperlukan untuk mempermudah transaksi keuangan non tunai,” ujar Kepala Unit Data dan Statistik BI Tegal, Taufik, usai sosialisasi pekan QRIS di Pesantren Terpadu Al Fusha Pekalongan, Sabtu (19/8/2023).

Menurut dia transaksi non tunai sudah menjadi kebutuhan di dunia ekonomi moderen saat ini tanpa terkecuali di kalangan pelajar, santri termasuk lembaga pendidikan formal maupun pesantren.

Di Pesantren Al Fusha penggunaan transaksi non tunai sudah dilakukan sejak dua tahun lalu dan seluruh unit usaha milik pesantren seperti mini market, baber shop, food court atau gerai kuliner dan layanan Go San atau Go Santri tidak lagi tunai.

“Dengan santri sebanyak 1200 anak potensi ekonomi pesantren sangatlah besar karena yang saya dengar total transaksi di unit usaha milik pesantren perpjtaran uangnya bisa tembus Rp 260 juta per bulan,” ungkap Taufik.

Sementara itu Ketua Yayasan Pesantren Al Fusha, Muslikhin menambahkan kemandirian ekonomi di pesantren sudah dirintis sejak 2010 dan terus berkembang hingga sekarang.

Berbagai layanan non tunai dari berbagai unit usaha yang dimiliki juga terus berkembang seperti terbaru aplikasi Go San yang sudah terinstal di ponsel pintar milik orang tua.

“Jadi mereka para orang tua tinggal pencet bisa mengirimkan makanan yang disukai sang anak dari luar lalu masuk pesantren dan itu dilayani oleh mitra para santri sendiri,” terangnya.

Kemandirian ekonomi pesantren juga ditopang oleh unit usaha lain seperti produksi minuman kemasan atau air mineral, produksi kerupuk dan pembesaran lele sebagai salah satu pendukung kebutuhan internal pesantren yang terus berputar ekonominya.

“Jadi potensi ekonomi dari 1200 santri plus walisantri mampu menghasilkan kemandirian ekonomi pesantren,” tuturnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *