Tak Pernah Melihat Uang Pinjaman, Dua Lansia di Pekalongan Justru Harus Menanggung Cicilan

Tak Pernah Melihat Uang Pinjaman, Dua Lansia di Pekalongan Justru Harus Menanggung Cicilan
Foto ilustrasi.Senin (16/03/26).

PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Niat menolong justru membawa kesedihan bagi dua warga lanjut usia di Kota Pekalongan pekalongan barat, Jawa Tengah. ST (60) dan UM (58) kini harus menghadapi tagihan kredit puluhan juta rupiah dari sebuah bank milik negara, meski mereka mengaku tak pernah menikmati uang pinjaman tersebut.

Peristiwa ini berawal pada 2022, ketika lima bersaudara di Kota Pekalongan ditawari bantuan pengajuan kredit dengan proses cepat oleh seorang tetangga. Mereka diminta meminjamkan KTP untuk mengajukan pinjaman dengan jaminan BPKB sepeda motor.Senin (16/03/26).

Bacaan Lainnya

Saat itu, masing-masing ditawari pinjaman sekitar Rp50 juta dengan tenor tiga tahun. Namun, dari lima orang tersebut, hanya tiga yang benar-benar menerima uang pinjaman itu pun setelah dipotong sejumlah biaya jasa oleh pihak yang membantu proses pengajuan.

Sementara dua lainnya, yakni ST dan UM, justru harus menghadapi kenyataan pahit: kredit atas nama mereka cair hingga Rp50 juta, tetapi uangnya tak pernah mereka terima.

ST menceritakan, awalnya ia hanya diminta membantu mantan atasan suaminya yang mengaku membutuhkan pinjaman sekitar Rp25 juta. Karena merasa iba, ia menyanggupi membantu dengan mengajukan pinjaman melalui bank.

Namun saat proses pencairan di bank, ST mengaku diminta menandatangani sejumlah dokumen tanpa memahami sepenuhnya isi perjanjian tersebut.“Saya kira pinjamannya Rp25 juta sesuai yang diminta. Tapi ternyata yang cair Rp50 juta,” kata ST dengan suara lirih.

Setelah menandatangani berkas pencairan, ST menunggu uang yang dijanjikan. Namun yang ia terima justru hanya dibelikan gorengan oleh orang yang mengajaknya mengurus pinjaman.

Waktu berlalu hingga delapan bulan tanpa kejelasan. Hingga akhirnya, ST justru menerima tagihan cicilan kredit dari bank.
Karena khawatir sepeda motornya disita, ST akhirnya berusaha mencicil pinjaman tersebut. Bahkan, ia mengaku terpaksa melunasi sisa utang, meski tidak pernah menikmati uang pinjaman itu.

“Saya sedih sekali. Tidak pernah menerima uangnya, tapi harus membayar cicilannya,” ujar ST.

Kisah serupa dialami UM (58). Ia mengaku setuju mengajukan pinjaman karena percaya kepada tetangganya yang selama ini menjadi pelanggan jahitannya.

Karena merasa sudah akrab, UM menyetujui pengajuan pinjaman yang awalnya disebut hanya sekitar Rp25 juta. Namun ketika proses di bank selesai, nilai kredit yang tercatat justru mencapai Rp50 juta.
“Pulang dari bank saya cuma dibelikan mie ayam. Uangnya saya tidak pernah lihat,” kata UM.

Merasa ditipu, UM mengaku tidak pernah mengangsur kredit tersebut hingga kini. Ia beralasan tidak pernah menerima uang pinjaman yang tercatat atas namanya.
Kini, kedua perempuan itu hidup dalam kecemasan. Di usia yang tidak lagi muda, mereka harus menghadapi tagihan kredit yang menurut mereka tidak pernah dinikmati.

Kisah ST dan UM menjadi gambaran bagaimana niat menolong dan kepercayaan kepada orang terdekat dapat berubah menjadi beban yang menyakitkan. Di balik angka-angka pinjaman dan dokumen perbankan, ada cerita pilu dua lansia yang merasa tertipu dan harus menanggung utang yang bukan mereka nikmati.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *