Konsumsi Takjil Masih Tinggi, Dinkes Minta Warga Lebih Teliti Memilih Makanan Berbuka

Konsumsi Takjil Masih Tinggi, Dinkes Minta Warga Lebih Teliti Memilih Makanan Berbuka
Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati dan lebih teliti dalam memilih makanan untuk berbuka.Kamis (12/03/26).

PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Memasuki pekan ketiga Ramadan, konsumsi takjil dan jajanan berbuka di masyarakat masih cukup tinggi. Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati dan lebih teliti dalam memilih makanan untuk berbuka, guna menghindari pangan yang mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, maupun pewarna non-pangan.

Sanitarian muda Dinas Kesehatan, Maysaroh menjelaskan bahwa sejumlah bahan kimia kerap disalahgunakan dalam pengolahan makanan untuk memperpanjang masa simpan maupun memperbaiki tampilan produk. Padahal, penggunaan bahan tersebut pada makanan telah dilarang karena dapat membahayakan kesehatan.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, formalin umumnya digunakan sebagai bahan pengawet. Makanan yang mengandung formalin biasanya memiliki ciri tidak mudah rusak meskipun disimpan cukup lama pada suhu ruang.

“Kalau formalin fungsinya lebih ke pengawet. Ciri-cirinya makanan menjadi tidak mudah rusak. Misalnya kita membeli makanan hari ini, kemudian disimpan hingga keesokan harinya di suhu ruang namun masih tetap tahan, hal tersebut patut dicurigai. Secara alami makanan akan mengalami kerusakan,” jelasnya.

Selain formalin, penggunaan boraks juga masih ditemukan pada beberapa jenis makanan. Boraks biasanya digunakan untuk membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan tampak lebih menarik.

Ia mencontohkan pada produk bakso. Bakso yang mengandung boraks memiliki tekstur yang sangat kenyal bahkan dapat memantul ketika dilempar. Sementara itu, bakso yang menggunakan bahan alami seperti tepung pati tidak akan memantul tinggi saat jatuh.

“Jika bakso menggunakan boraks, ketika dilempar bisa memantul. Namun jika menggunakan tepung pati, saat terjatuh tetap jatuh biasa dan tidak memantul tinggi,” ujarnya.

Selain membuat tekstur menjadi sangat kenyal, makanan yang mengandung boraks juga cenderung lebih tahan lama dan dapat meninggalkan rasa getir saat dikonsumsi.

Maysaroh mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penggunaan pewarna berbahaya seperti rhodamin B yang tidak diperuntukkan bagi makanan. Makanan yang menggunakan pewarna tersebut biasanya memiliki warna yang terlalu mencolok dan tidak alami.

Pada beberapa produk seperti kerupuk merah atau kerupuk usek, pewarna berbahaya biasanya tidak tercampur secara merata. Hal ini dapat terlihat dari adanya titik-titik warna yang cenderung kebiruan.

“Kalau menggunakan pewarna makanan, warnanya akan menyatu dengan baik atau ngeblend secara sempurna. Namun jika menggunakan pewarna non-pangan seperti rhodamin, warnanya sering tidak merata dan muncul titik-titik,” sambungnya.

Masyarakat diimbau untuk memanfaatkan seluruh indera saat memilih makanan, mulai dari memperhatikan warna, tekstur, hingga rasa. Jika makanan terlihat terlalu mencolok, terlalu mengkilap, sangat kenyal, atau meninggalkan rasa getir, sebaiknya makanan tersebut tidak dikonsumsi.

Selain kepada masyarakat, ia mengingatkan para pedagang agar tidak menggunakan bahan berbahaya dalam proses pengolahan makanan. Penggunaan formalin, boraks, dan pewarna tekstil pada makanan telah dilarang karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Ia menegaskan bahwa keamanan pangan tidak dapat tercipta hanya oleh satu pihak saja. Dibutuhkan peran serta semua pihak, baik pemerintah, pedagang, maupun masyarakat, untuk memastikan makanan yang beredar aman dikonsumsi.

“Keamanan pangan tidak bisa diciptakan dari satu sisi saja. Untuk menghasilkan makanan yang aman, semua pihak harus terlibat,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *