PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Di sebuah sudut Kota Pekalongan, keputusan besar itu lahir bukan dari rapat panjang atau target yang meleset, melainkan dari mimpi yang berulang dan kegelisahan yang tak lagi bisa ditawar.
MA (42), warga Medono, pernah berada di titik yang banyak orang dambakan: karier mapan di perusahaan pembiayaan kendaraan, sertifikat profesi di tangan, dan penghasilan yang membuat hidup terasa aman. Namun pada 2019, ia memilih mundur meninggalkan posisi internal yang telah diraihnya setelah hampir sembilan tahun berproses dari bawah.
“Perjalanan saya dari 2010. Mulai marketing, naik superviser, lalu masuk bagian internal. Hampir sembilan tahun,” kata MA saat ditemui di Pekalongan.Senin (02/03/26).
Mimpi yang Datang Berulang
Di balik capaian itu, MA menyimpan cerita yang tak banyak diketahui rekan kerjanya. Sejak 2018, ia kerap dihantui mimpi yang sama mimpi yang membuatnya terbangun dengan dada sesak.
“Saya mimpi memberi makan api ke anak-anak saya. Mereka memakannya dengan lahap, termasuk istri saya. Saya justru ketakutan sekali,” ujarnya lirih.
Mimpi itu datang berulang, bahkan bisa seminggu sekali. Pada awalnya ia mencoba mengabaikan. Namun ketika anaknya jatuh sakit dan persoalan keluarga mulai berdatangan, kegelisahan itu berubah menjadi perenungan panjang.
“Rasanya hidup berantakan. Saya mulai bertanya-tanya, apa yang sedang saya jalani ini benar-benar membawa kebaikan untuk keluarga atau tidak,” katanya.
Air Mata di Balik Penarikan Kendaraan
Sebagai bagian dari perusahaan, MA tak hanya bergelut dengan angka dan berkas. Ia juga berhadapan langsung dengan nasabah yang menunggak cicilan termasuk proses penarikan kendaraan.
Di situlah, kata dia, nuraninya kerap terusik.
“Hingga sekarang saya menangis kalau ingat saat menarik kendaraan. Saya selalu berpikir, bagaimana kalau itu terjadi pada keluarga saya, anak dan istri saya? Sedih sekali,” tuturnya, suaranya bergetar.
Baginya, pekerjaan yang dulu dianggap sekadar profesionalisme, perlahan berubah menjadi beban batin. Ia merasa seperti terjebak di antara tanggung jawab kerja dan empati sebagai seorang ayah.
Keputusan yang Mengubah Segalanya
Pada 2019, di tengah kondisi ekonomi keluarga yang masih bergantung pada gajinya, MA mengambil langkah yang bagi banyak orang terdengar nekat: mengundurkan diri.“Dulu hidup berkecukupan. Setelah berhenti, jadi pas-pasan. Berat sekali. Tapi saya berusaha ikhlas,” katanya.
Transisi itu tidak mudah. Ia harus menata ulang keuangan, menekan gaya hidup, dan menghadapi pertanyaan dari lingkungan sekitar. Namun di balik kesederhanaan yang datang, MA merasakan sesuatu yang lama hilang: ketenangan.
Pada 2021, ia memulai usaha sendiri sebagai wiraswasta. Penghasilannya tak sebesar dulu, tetapi cukup untuk kebutuhan keluarga.
“Alhamdulillah sekarang sederhana tapi cukup. Dan yang paling penting, mimpi itu sudah tidak pernah datang lagi,” ujarnya.
Antara Karier dan Ketenangan
Kisah MA menjadi potret dilema yang mungkin tak jarang dialami pekerja di berbagai sektor: ketika profesionalisme berbenturan dengan nilai personal dan suara hati.
Di tengah tekanan target, sertifikasi, dan jenjang karier, MA memilih jalan sunyi menukar kepastian finansial dengan ketenteraman batin.Baginya, kebahagiaan tak lagi diukur dari besarnya slip gaji, melainkan dari pulang ke rumah tanpa rasa bersalah dan tidur tanpa dihantui mimpi.
“Sekarang saya lebih tenang. Bisa melihat anak-anak tumbuh tanpa rasa takut. Itu yang paling mahal,” katanya.
Di Pekalongan, kisah itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi MA, keputusan berhenti bukan sekadar pindah pekerjaan. Itu adalah upaya menyelamatkan diri dan keluarganya dari api yang hanya ia lihat dalam mimpi, tetapi terasa nyata di hati.





