“Debt Collector” Beringas di Pantura Pekalongan, Warga Tirto Melawan: Rakyat Jangan Kalah oleh Preman Berkedok Penagih

“Debt Collector” Beringas di Pantura Pekalongan, Warga Tirto Melawan: Rakyat Jangan Kalah oleh Preman Berkedok Penagih
Ormas Squad Nusantara Dpc Pekalongan.Selasa (17/02/26).

PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN, -Jalan Pantura yang seharusnya menjadi nadi kehidupan warga justru berubah menjadi arena ketakutan. Praktik perampasan kendaraan bermotor oleh oknum yang diduga debt collector (DC) kembali memicu keresahan. Kali ini, perlawanan warga pecah di wilayah Tirto, Kabupaten Pekalongan, setelah seorang pengendara dikejar dan nyaris kehilangan motornya secara paksa.

Arifin (48), Ketua Squad Nusantara Ranting Tirto, mengungkapkan peristiwa itu terjadi di kawasan Kalisengarang, tepatnya di jembatan sebelah timur. Seorang pria asal Desa Bener Pencongan dihentikan oleh sekelompok pria yang diduga oknum debt collector. Namun korban menolak berhenti karena merasa terancam.

Bacaan Lainnya

“Korban terus melaju menyelamatkan diri dan masuk ke wilayah Desa Sepacar untuk meminta pertolongan warga. Tapi tetap dikejar sampai akhirnya diberhentikan di dekat SMP Negeri 1 Tirto,” kata Arifin saat ditemui, Selasa (17/2/2026).

Sendirian dan tanpa perlindungan, korban nyaris tak berdaya menghadapi empat orang yang diduga hendak menguasai sepeda motornya. Namun situasi berubah drastis ketika warga sekitar berdatangan. Warga yang geram melihat tindakan tersebut langsung melawan.

Bentrok pun tak terhindarkan. Oknum debt collector yang sebelumnya bertindak agresif mendadak ciut. Mereka akhirnya melarikan diri terbirit-birit, menghindari amukan massa.“Begitu warga berkumpul, mereka langsung kabur. Ini menunjukkan mereka berani hanya ketika korbannya sendirian,” ujar Arifin.

Ironisnya, peristiwa serupa disebut bukan yang pertama. Sebelumnya, seorang ibu-ibu juga menjadi korban pengejaran oleh oknum yang sama, dari kawasan Jembatan Pencongan hingga sekitar Kantor Samsat Tirto. Pola yang berulang ini menimbulkan pertanyaan serius: di mana Aph ketika warga diteror di jalan raya?

Arifin secara tegas mengecam praktik perampasan kendaraan yang mengatasnamakan penagihan utang. Ia menilai tindakan tersebut lebih menyerupai premanisme daripada penegakan hukum.

“Saya sebagai Ketua Ranting Squad Nusantara Tirto sangat tidak setuju dengan cara-cara debt collector yang merampas paksa tanpa toleransi. Banyak warga dirugikan, motornya diambil, lalu hilang begitu saja tanpa kejelasan,” katanya.

Ia juga mengimbau warga untuk tidak diam ketika menghadapi situasi serupa. Menurutnya, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, dan solidaritas masyarakat terbukti mampu menghentikan aksi yang diduga melanggar hukum tersebut.

Fenomena ini menjadi alarm keras bagi aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Jalan raya bukan wilayah abu-abu yang bebas dikuasai siapa saja. Jika praktik intimidasi dan perampasan terus dibiarkan, maka kepercayaan publik terhadap hukum akan terkikis.

Rakyat tidak boleh kalah oleh preman berkedok penagih utang. Ketertiban dan rasa aman di ruang publik adalah hak setiap warga negara—tanpa pengecualian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *