Tak Lagi Terendam, Kampung Bugisan Pekalongan Bertahan di Tengah Cuaca Ekstrem

Tak Lagi Terendam, Kampung Bugisan Pekalongan Bertahan di Tengah Cuaca Ekstrem
Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah pada awal 2026 tidak berdampak pada Kampung Bugisan, Kota Pekalongan.Jumaat (14/02/26).

PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah pada awal 2026 tidak berdampak pada Kampung Bugisan, Kota Pekalongan. Kawasan yang sebelumnya dikenal rawan banjir dan rob kini terbukti bebas genangan, berkat program Konsolidasi Tanah yang dilaksanakan pada 2024.

Program tersebut merupakan kolaborasi antara Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dan Pemerintah Kota Pekalongan dalam menata ulang kawasan permukiman terdampak banjir secara menyeluruh.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) Kota Pekalongan, Slamet Mulyadi, mengatakan hasil monitoring menunjukkan tidak adanya genangan di Kampung Bugisan meski terjadi cuaca ekstrem.

“Alhamdulillah, dari hasil monitoring bersama tidak ditemukan genangan. Penataan kawasan ini berhasil. Terdapat tiga pompa otomatis yang berfungsi menyerap air jika terjadi peningkatan debit, namun faktanya tidak ada genangan sama sekali. Proyek ini bisa dikatakan berhasil,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan tiga pompa otomatis tersebut menjadi sistem siaga yang dirancang untuk bekerja cepat ketika debit air meningkat, sehingga potensi banjir dapat diantisipasi sejak dini.

Sementara itu, Ketua RW Bugisan, Slamet Mulyono, mengungkapkan perubahan signifikan yang dirasakan warga setelah penataan kawasan dilakukan.
“Alhamdulillah, setelah penataan, Bugisan tidak lagi terdampak banjir meski cuaca ekstrem,” katanya.

Menurut Slamet, sebelum program Konsolidasi Tanah dilaksanakan, wilayah Bugisan mengalami banjir dan rob selama kurang lebih 11 tahun sejak 2015. Air rob bahkan datang dua kali setiap hari dan semakin parah saat hujan lebat.

Melalui program tersebut, sebanyak 168 rumah berhasil ditata, baik melalui pembangunan rumah baru maupun peningkatan kualitas hunian. Selain itu, pemerintah juga membangun sistem drainase serta melebarkan akses jalan untuk memperlancar aliran air dan mobilitas warga.

Ia menambahkan, keberhasilan penataan tidak lepas dari partisipasi aktif masyarakat. Pada tahap awal, warga secara sukarela merelakan sebagian lahannya untuk kepentingan umum, seperti pembangunan drainase dan pelebaran jalan lingkungan.
“Setelah bertahun-tahun hidup dengan banjir dan rob, warga menyambut program ini dengan antusias. Penataan ini menjadi titik balik bagi Bugisan,” ujarnya.

Kini, Kampung Bugisan tidak hanya terbebas dari genangan, tetapi juga menjadi contoh keberhasilan kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam membangun kawasan permukiman yang lebih tertata, layak huni, dan tangguh menghadapi cuaca ekstrem.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *