PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – Di balik gemerlap kain batik yang ia produksi sendiri, tersimpan luka mendalam di hati seorang perempuan berinisial RK (36) warga pekalongan timur kota pekalongan. Seorang ibu satu anak, pengusaha batik, yang kini hidup dalam kesepian meski masih berstatus istri.
RK bukanlah wanita lemah. Ia membangun usahanya sendiri, menghidupi keluarga, dan tetap berdiri tegar. Namun, satu hal yang tak mampu ia bangun kembali adalah kehangatan rumah tangga yang perlahan runtuh. Suaminya kini jarang pulang.Tak ada lagi sapaan.Tak ada perhatian.Tak ada pelukan.Minggu (11/01/26).
Ketika anak mereka jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, sang suami tak pernah datang menjenguk. Tak ada pesan. Tak ada doa. Tak ada kabar.Lebih menyakitkan lagi, mertua hanya bertanya satu hal:”Suamimu sehat atau tidak?”
Tanpa pernah menanyakan kondisi cucunya.Tanpa menanyakan keadaan RK sebagai ibu yang kelelahan.“Seolah-olah aku dan anakku tidak pernah ada,” ucap RK dengan suara bergetar.
Ia mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah selama ini keluarganya hanya dimanfaatkan?Apakah kehadirannya hanya dianggap beban?Dengan senyum pahit dan tawa kosong, RK berkata,“Kalau memang mau cerai, ya cerai saja. Aku juga butuh perhatian, butuh kehangatan seorang laki-laki.
”Suaminya bekerja sebagai buruh kasar. Namun menurut RK, bukan soal pekerjaan yang menjadi masalah melainkan rasa tidak dihargai dan tanggung jawab seorang suami kepada anak.“Aku pengusaha. Aku berjuang untuk keluarga. Tapi aku tidak pernah dianggap,” katanya lirih.
Kini RK menjalani hari-harinya dalam sunyi.Mengurus anak yang sakit.Mengelola usaha sendiri.Menahan rindu pada sosok suami yang masih ada,tapi terasa seperti telah pergi.
Di balik setiap kain batik yang ia produksi tersimpan air mata.Di balik senyum yang ia tunjukkan, ada hati yang remuk.Karena terkadang, yang paling menyakitkan bukanlah ditinggalkan melainkan dilupakan saat masih bersama





