PANTURA24.COM,KOTA PEKALONGAN – RA seorang perempuan berusia 35 tahun, warga Pekalongan Timur, Kota Pekalongan. Sehari-harinya ia dikenal sebagai pengusaha batik. Dari luar hidupnya tampak mapan, tetapi di balik itu semua, RA menyimpan luka yang dalam. Ia sudah menikah selama enam tahun, namun pernikahan itu terasa hampa seolah ia tak pernah benar-benar memiliki seorang suami.
Dalam rumah tangganya, RA berjalan sendiri. Suaminya tak mau mengurus istri, apalagi memperhatikan rumah tangga. Jika ada uang, ia datang meminta. Jika tidak, ia menghilang. RA lelah, tapi tetap bertahan, berharap ada perubahan.Dengan suara bergetar, RA menceritakan awal pernikahannya.“Sebenarnya dulu saya punya tunangan,” ucapnya pelan.Sabtu (03/01//26)
“Kami dari keluarga biasa saja, tapi saling cocok dan saling memahami.”Namun kebahagiaan itu terhenti ketika RA jatuh sakit. Hampir dua tahun ia terbaring lemah, tak bisa bangun, tak tahu kapan sembuh. Dalam kondisi putus asa, ia memutuskan mengakhiri pertunangannya pada tahun 2019.“Saya tidak mau menyusahkan dia,” katanya lirih.
“Dalam hati saya bernazar, siapa pun yang bisa menyembuhkan penyakit saya, akan saya nikahi.”Tak lama kemudian, melalui perantara orang tua, datang seseorang yang membantu pengobatannya. Perlahan, RA sembuh dan kembali normal. Lelaki itu masih muda, berstatus duda tanpa anak. Dengan pasrah dan penuh harap, RA menerima pernikahan itu.“Aku manut,” ucap RA kala itu, berharap takdir akan berpihak padanya.
Namun waktu membuktikan sebaliknya. Setelah menikah, suaminya justru lebih peduli pada keluarganya sendiri daripada istri dan anak kandungnya. Usaha batik RA perlahan hancur, tak pernah dilihat, tak pernah ditanya. Semua beban RA tanggung sendiri.Kini, suaminya meninggalkan rumah. Tak pulang, tak memberi nafkah, tapi tetap mengawasi, seolah tak ingin benar-benar melepaskan.“Aku bingung,” ucap RA dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau mau meninggalkan, ya tinggalkan saja. Lepaskan aku, biar masing-masing menjalani hidup.”Di tengah kesedihannya, bayangan masa lalu kembali hadir. Mantan tunangannya orang yang dulu ia lepaskan karena sakit ternyata masih menunggunya hingga kini. Ia belum menikah, seakan setia pada janji yang tak pernah terucap.
“Aku bingung harus bagaimana,” kata RA lirih.
“Aku butuh perhatian. Masalahku besar, tapi aku harus menanggung semuanya sendiri.”RA terdiam. Di antara luka masa lalu, pernikahan yang hampa, dan harapan yang tersisa, ia hanya ingin satu hal: dimengerti, ditemani, dan tidak lagi berjalan sendirian dalam hidupnya.





