PANTURA24.COM, KOTA PEKALONGAN – Jembatan penghubung antara RW 01 dan RW 08 di Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, hingga kini masih dalam kondisi memprihatinkan. Padahal, jembatan tersebut merupakan akses vital bagi aktivitas warga sehari-hari, mulai dari anak-anak yang berangkat sekolah dan mengaji, hingga kebutuhan sosial warga, termasuk saat prosesi pemakaman.
Kondisi jembatan yang rusak membuat warga kebingungan, terutama ketika harus melintasi jenazah menuju pemakaman. Warga menilai situasi ini sangat tidak layak dan berisiko, terlebih jembatan tersebut berada di wilayah perkotaan yang dikenal sebagai pusat batik berkelas internasional.
“Kalau ada warga yang meninggal, kami benar-benar kesulitan. Jembatan ini satu-satunya akses terdekat, tapi kondisinya parah dan membahayakan,” ujar perwakilan warga dari dua RW yang tidak mau disebutkan namanya.Minggu (14/12/25).
Warga mengaku telah menempuh berbagai upaya dan prosedur secara bertahap. Aspirasi sudah disampaikan lintas wilayah, mulai dari pengurus RW 8, tokoh masyarakat setempat, hingga RT dan RW lainnya. Setidaknya empat unsur wilayah telah terlibat dalam proses pengajuan perbaikan tersebut.
Namun hingga kini, belum ada realisasi nyata dari pihak terkait. Hal ini membuat warga merasa keadilan dan perhatian pemerintah masih jauh dari harapan.
“Ini sudah melewati batas kesabaran kami. Kami sudah melangkah sesuai aturan, dengan kebenaran dan kesabaran. Tapi kenyataannya, sampai hari ini belum ada perubahan,” kata warga.
Warga berharap Pemerintah Kota Pekalongan maupun para wakil rakyat dapat segera memberikan perhatian serius dan membangun jembatan yang layak, aman, dan manusiawi. Mereka menilai fasilitas dasar seperti jembatan seharusnya menjadi prioritas, terlebih menyangkut keselamatan dan martabat warga.
Di tengah citra Kota Pekalongan sebagai kota indah dan berbudaya, warga Tirto masih harus menghadapi kenyataan pahit: bahkan untuk mengantarkan jenazah ke pemakaman, mereka harus melewati jembatan rusak yang tak kunjung diperbaiki.





