PANTURA24.COM, KOTA PEKALONGAN – Seorang alumni Sekolah Menengah atas terkenal diPekalongan, Muhammad David Ilham, terpaksa kehilangan kesempatan melanjutkan seleksi beasiswa penuh 100 persen ke Korea Selatan akibat dugaan kelalaian penyampaian informasi dari pihak sekolah.
David sejatinya telah berhasil melewati tahap pertama seleksi dan berhak mengikuti tes tahap berikutnya di tingkat Provinsi Jawa Tengah pada 17 Juli 2025. Namun, pemberitahuan resmi yang dikirimkan ke sekolah asal tidak sampai kepada dirinya. Informasi baru diketahui David sebulan kemudian melalui rekannya sesama peserta.
“Saya sangat kecewa. Bukan karena tidak mampu bersaing, tetapi karena tidak tahu jadwal tes. Padahal saya optimistis bisa lolos melihat hasil tes sebelumnya,” kata David, Sabtu (30/8/2025).
Kekecewaan semakin mendalam ketika ia bersama orang tuanya, Henri Agustinus, mencoba meminta klarifikasi ke sekolah. Alih-alih mendapat penjelasan dan solusi, Henri menuturkan, anaknya diduga menerima nada intimidatif dari salah satu guru BK.
“Yang kami harapkan adalah jawaban jelas dan jalan keluar. Tapi justru ada dugaan kalimat yang bernuansa ancaman agar jangan sampai membuat nama sekolah tercemar,” ujar Henri.
Merasa diperlakukan tidak adil, Henri kemudian menunjuk kuasa hukum, David Santosa dari DS Law Office, Pekalongan. Langkah hukum pun ditempuh dengan melayangkan surat somasi kepada pihak sekolah. Namun jawaban yang diterima dianggap tidak sesuai substansi.
“Surat somasi kami yang ditandatangani resmi malah dijawab kepada anak, bukan kepada kami selaku kuasa hukum. Ini membuat proses komunikasi menjadi tidak profesional,” kata David Santosa.
Menurutnya, jawaban sekolah yang sudah sempat dipublikasikan ke media justru menimbulkan kesan menghindari tanggung jawab. “Kami sudah melayangkan surat balasan dan meminta pihak sekolah lebih arif. Masalah ini bukan sekadar permintaan maaf selesai, tetapi menyangkut hak pendidikan seorang siswa,” tambahnya.
Henri berharap, kasus yang menimpa anaknya bisa menjadi pelajaran bagi pihak sekolah agar lebih transparan dalam menyampaikan informasi penting. Ia juga menekankan kondisi psikologis anaknya yang kini terguncang akibat kehilangan kesempatan berharga tersebut.
“Setiap hari wajahnya muram, lebih banyak melamun. Saya khawatir dengan perkembangan mentalnya,” kata Henri.
Kuasa hukum menyatakan akan terus mengawal kasus ini, bahkan membuka kemungkinan untuk membawa ke ranah pengadilan atau melaporkan ke Ombudsman apabila tidak ada penyelesaian yang memadai.