PANTURA24.COM, KOTA PEKALONGAN – Sejak 1991, gerobak sederhana Bubur Ayam Pak H. Rasrip setia hadir mewarnai pagi warga Kota Pekalongan. Awalnya berjualan keliling selama dua tahun, kini beliau menetap di Jalan Dharma Bakti pekalongan barat, dan setiap harinya buburnya selalu ludes bahkan sebelum pukul 08.30 WIB.
Dari harga Rp 200 pada awal jualannya, kini seporsi bubur ayam Pak H. Rasrip dihargai Rp10.000. Meski demikian, cita rasa khas yang ia racik tetap terjaga dan menjadi alasan pelanggan setia datang kembali,Jumaat (29/08/25).
“saya pendatang. Alhamdulillah sekarang sudah jadi warga kota pekalongan, berkat bubur ini kami bisa menghidupi keluarga, punya empat anak, dan tetap barokah,” ujar Pak Rasrip saat ditemui di sela kesibukannya.
Keistimewaan bubur ayam ini bukan hanya dari kuah melainkan juga sambalnya yang disebut pelanggan bikin ketagihan.
Seorang pelanggan, P (35), warga Batang, rela datang seminggu sekali meski jarak rumah cukup jauh. “Saya merasakan nikmatnya bubur ini, terutama sambalnya, bikin ketagihan,” katanya.
Hal senada disampaikan IT (45), seorang ibu rumah tangga di Pekalongan. “Saya sering ke sini untuk membelikan anak saya. Rasanya pas, anak saya yang kecil selalu habis setiap kali makan,” ujarnya.
Sementara AD (46), warga Kota Pekalongan, menyebutkan bahwa bubur ayam Pak H. Rasrip istimewa bukan hanya soal rasa. “Penjualnya ramah, buburnya nendang, bikin orang ketagihan. Sangat direkomendasikan,” katanya.
Di tengah persaingan kuliner yang semakin beragam, Bubur Ayam Pak H. Rasrip tetap bertahan menjadi pilihan warga. Tak heran jika setiap pagi antrean selalu terlihat di gerobak sederhananya.
“Alhamdulillah, Kota Pekalongan aman dan bubur selalu habis sebelum jam setengah sembilan,” ucapnya sambil tersenyum.